Hai nama gue Fitra Hasnu. Gue lahir di Jakarta dan kegiatan gue sekarang adalah siaran radio, jadi wartawan, dan sekolah. Untuk lebih lengkapnya.. silahkan lo berkelana di blogger gue.
Follow My Twitter @fitrasawaauu atau buka http;//fitrasawaauu27.blogspot.com SELAMAT DATANG!!!

 

Cerpen Terbang (Fitra Hasnu)

Lusa Lala terbang ke Jakarta. Meninggalkan kampung halaman yang telah ia tinggali selama 2 minggu. Berlibur di kampung halaman sendiri memang menyenangkan baginya. Apalagi bisa berbelanja sepuas hati tanpa ada yang mengganggunya. Terutama Adit. Adik semata wayangnya itu kini bebas berkelana kemana pun yang ia mau. Karena tugasnya sebagai pilot disebuah maskapai penerbangan telah membawanya mengarungi berbagai benua di Dunia. Tapi terkadang, ada rasa rindu teramat dalam untuk Adit, apalagi eluhannya yang tiap kali Lala ajak untuk berbelanja.
“Kapan kakak balik ke Jakarta?” tanya Adit di seberang sana.
“Sebentar lagi, dit. Kamu sendiri kapan ke Indonesia. Betah ya di Australia.” Sindir Lala, “atau jangan-jangan udah dapat cem-ceman nih disana.”
Adit tertawa geli, “Kakak bisa aja, by the way, gimana sama temen bbm kakak? Jadi ketemuan di Bali?”
Lala terdiam sejenak. Dan hening pun menyergap pembicaraan mereka kala itu.
Adit pun segera mencairkan suasana yang tiba-tiba saja mendingin.
“Sorry kak, sorry. Maksud aku nggak gitu. Tapi…”
“Iya paham. Kakak udah coba buat ngebujuk dia ke Bali, tapi ada banyak alasan dia buat tetap tinggal di Semarang” suara Lala pun berparau, “padahal Semarang ke Bali itu jaraknya nggak terlalu jauh. Kamu tau itu.”
Lagi-lagi hening datang di tengah pembicaraan kakak-adik tersebut.
Entah apa yang Adit lakukan diseberang sana.
“Kak…” sapanya yang memecah keheningan. “Lupain dia, anggap dia nggak pernah hadir di hidup kakak. Anggap dia hanya sekedar teman chat. Walaupun aku tau, dia udah buat kakak bangkit dari keterpurukan kakak pasca kejadian dengan Kak Nino itu.”
“Dit, kakak….”
“Life goes on. Muah…” suara kecupan kasih sayang terdengar teramat jelas untuk Lala, “Aku mau terbang lagi nih. Mau ke Amsterdam. See you sister. Please don’t make me worry because I want the best for my sister” Klik.
Suara diseberang sana segera menutup telephone dan bertugas seperti sedia kala.

Jam menunjukan dini hari. Lala mematikan lampu kamar dan beranjak ketempat tidur. Namun, ketika hendak mematikan lampu beberapa kali Lala mendapatkan pesan melalui bbm. Ia melihatnya sejenak dan meletakan handphone jauh dari dirinya berada saat ini. Gue sudah berusaha mencari cara gimana buat melupakan lo. Tapi gue belum bisa. Gumamnya dalam hati.
***
“Hello good morning.” Suara ini datang melalui voice note dari Hendrik. Ia salah satu coowok yang belakangan ini mulai dekat dengan Lala. Hendrik ini kawan Tyo, mantan kekasih Lala sewaktu duduk di bangku SMA. Kedatangan Hendrik dihidup Lala membuatnya bertanya-tanya. Ada gerangan apa “seseorang” yang sama sekali tidak dekat dengannya sekarang justru jadi “seseorang” yang benar-benar care dan perhatian serta selalu berusaha menghubungi Lala disaat jam kantor seperti ini.
“Ada apa sih, hend? Emang nggak berangkat ke kantor pagi ini???” balas Lala serupa dengan nada ketus.
“Jangan ketus dong… Ini lagi di kantor. Lo lagi apa? Kapan pulang ke Jakarta. Gue kangen banget nih sama lo.” Mata Lala terbelalak tak percaya. Yang benar saja, baru kenal udah kangen-kangen sama gue!! geramnya dalam hati.
“PING!!!”
“Sorry, gue mau pergi nanti dihubungi lagi ya… bye hend.”
“Bye bebh… Hati-hati ya sayang”
Kali ini Lala harus bisa mengabaikan tindakan Hendrik yang nekat. Selain dekat dengan Lala, Hendrik sudah berani memanggil Lala sayang dan beberapa kali sudah menyatakan perasaannya. Dan pendirian Lala hanya satu.
“Kalo gue belum ketemu sama dia, gue nggak bisa terima cintanya dia, Jihan…” bisiknya.
Suasana café hari ini cukup sepi. Mungkin karena jam kerja dan letak café nya bersebelahan dengan kantor Jihan. Kali ini, Jihan sengaja izin masuk kantor untuk menemani Lala membeli perlengkapan sebelum terbang ke Jakarta.
“Iya gue ngerti, tapi apa lo nggak mau ninggalin… siapa deeeeeh… gue lupa, temen cowok bbm lo itu??”
“Ben.” Kata gue sambil menyeruput Hot Cappucinno Mint Coffee
“Oke.” Jihan menatap gue dalam-dalam, “Lo jauh dari Ben. Dia di Semarang dan elo di Jakarta. Sekarang gini, kemarin-kemarin lo cerita ke gue kalo dia bakal kerja di Singapore, otomatis ya nona, elo di tinggalin, sebelum lo ketemu sama si Ben itu. Kalo menurut gue Hendrik ituuuu….”
Jihan memberhentikan pembicaraannya sejenak sambil mengambil sepotong kentang untuk cemilan pagi ini.
“Menurut gue, dia itu ada kepastiannya kebanding si Ben. Sekarang gini, hidup lo dengan Ben hanya di habiskan dengan dunia maya. Mau sampai kapan lo Cuma webcaman, terus bbm-an, telephone an, SMS-an emang lo nggak butuh kissing gitu???”
Lala sedikit terkejut saat mendengar kalimat terakhir Jihan.
“Please ya La. Elo itu sepupu gue. Gue sayang sama elo, La. Dari kecil kita udah bareng-bareng. Kalo sekarang gue harus liat lo nge-galau hanya karena cowok dan itu Ben. Kayaknya nggak banget deh… Dan gue bela-belain izin dari kantor, karena hari ini adalah hari terakhir lo disini. Sekali lagi, please ya La. Pikir baik-baik deh.”
Lala menatap keluar jendela dengan tatapan bimbang dan gelisah. Sejak ditinggal Nino, gue memang jadi dingin, tapi semenjak kenal sama Ben, hidup gue jadi lebih hidup lagi. Apa gue mulai menyayanginya sebelum bertemu dengannya? I love you before I meet you, gitu???
“La, jalan yuk. Nggak jenuh disini mulu” ajak Jihan.
Suara itu menyadarkan lamunan Lala.
“Ayooo… katanya mau jalan-jalan terakhir. Ayo gue temenin.” seru Jihan, semangat
Lala dan Jihan pun memutuskan untuk berkeliling pulau berPantai Kuta itu seharian.
***
Malam ini ditemani dengan secangkir Hot Coffee. Lala mencoba mengingat kembali semua perkataan Jihan tadi siang. Sambil mendengarkan When You Love Someone dari Endah N’ Rhesa mengantarkan Lala ke pilihan yang membuatnya harus memilih.
Mungkin ketika ia di Jakarta akan bertemu dengan Hendrik. Beda lagi dengan Ben. Lala nggak tau kapan akan bertemu dengan Ben. Bahkan untuk berlibur seharian saja Lala tidak tahu itu kapan akan terjadi.
Beberapa kali handphone Lala bergetar dan membunyikan suara yang khas. Tanda pesan bbm tiba. Ia mengambil handphone yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisinya berada. Kemudian membukanya dan terdapat nama Ben disana. Sedikit senyuman simpul menghiasai wajahnya. Seketika dia diam dan meletakan kembali handphonenya.
Siapa sangka orang kayak gue bisa terjebak sama hal konyol seperti ini. Dari awal ditinggal Nino menikah udah cukup buat gue merasakan pahitnya jatuh cinta. Sekarang gue harus ketemu sama yang namanya galau?? Antara Ben dan Hendrik. Meskipun Hendrik mengenal gue melalui Tyo. Tapi gue nggak akan kenal Hendrik begitu aja. Gue juga kenal Ben dari teman gue sewaktu masih kuliah awal-awal semester. Ternyata Ben itu senior temen gue di kampusnya. Dan sekarang, Ben akan segera ditugas kan ke Singapore untuk bekerja. Dan gimana nasib hidup gue? liburan terakhir sebelum menghadapi skripsi, justru malah ketiban durian begini. Ben dan Hendrik.
Getaran dan suara khas itu kini menyadarkan Lala dari lamunan. Dan membuatnya tergerak untuk datang ke Café dekat kantor Jihan.
Entah apa yang membuatnya kesana, tapi dalam hatinya ia harus kesana.
***
“Biasa ya bli.” Kata Lala saat sampai didepan pemesanan menu. Sudah ada Bli Putu yang siap melayaninya.
Dengan senyuman tulusnya Bli Putu pun membuat minuman kesukaan Lala. Kemudian ia mengantarkannya.
“Ini non Lala.” Katanya sambil menaruh pesanan Lala dengan baik.
“Makasih ya Bli. Saking seringnya kesini, sampai hapal nama saya.” Balas Lala diselingi senyumanan.
“Sama-sama non. Kok ndak sama non Jihan ya? Tumben sekali ya.” Suara khas orang Bali dari Bli Putu membuat Lala mudah tersenyum. Entahlah karena apa, mungkin karena charisma Bli Putu.
“Duduk Bli.” Kata Lala sambil memberikan kursi favoritenya. Biasanya kursi ini yang tempatin selalu Jihan. Tapi sekarang Bli Putu yang berada disamping Lala. Siap menerima segala apapun yang ingin Lala sampaikan.
“Wajah non Lala, kayaknya sedang ada masalah ya?” tanyanya hati-hati.
“Panggil Lala aja. Lagi pula saya sama Bli seumuran kan???” Bli Putu cukup terkejut bukan karena Lala mengetahui umurnya dengan Bli Putu seumuran. Tapi karena baru kali ini ada customer yang friendly.
“Saya jadi ndak enak hati non.”
“Panggil Lala aja ya….” Pinta Lala sekali lagi.
“Okelah, setuju saya. “ Bli Putu menganggukan kepala, “tapi Lala panggil saya Putu saja ya.”
Lala mebalasnya dengan sumringah.
“Ada apa nih malam-malam dingin begini malah keluar rumah. Bukannya di rumah saja, La.” Putu mencoba menebak apa yang dipikirkan Lala, “mesti masalah cinta ya… sudah terlihat dari raut wajahnya. Lagi galau, kalau kata anak muda sekarang.” Lala tertawa.
“Saya mau tanya deh, kira-kira kita bisa melihat seberapa seriusnya seorang laki-laki itu dari segi mana ya??”
Putu berdeham cukup lama dan akhirnya ia buka suara.
“Banyak yang bilang perempuan itu sulit sekali untuk dimengerti. Oleh karena itu, sampai Ada Band pun buat lagu Wanita Ingin Dimengerti. Saya hidup dikeluarga yang notaben nya perempuan semua. Ibu saya, kakak perempuan saya dan dua adik perempuan saya. Setelah ayah saya meninggal. Saya menjadi satu-satunya laki-laki diantara empat perempuan dalam hidup saya.”
Lala semakin antusias dengan cerita dari Putu.
“Sebenarnya sebagai perempuan itu adalah tugasnya dengan duduk manis dan mengerti keadaan pasangannya kok La. Kalo kamu ingin melihat seberapa seriusnya seorang laki-laki itu dari pengorbanannya. Dari cara dia melakukan semuanya demi kamu. Tanpa memandang apapun, jarak, waktu ataupun materi sekalipun. Dia akan berkorban untukmu.”
Lala diam untuk beberapa menit. Berpikir keras atas semua orang yang pernah berkorban untuknya. Dan tak lama kemudian air mata Lala jatuh tak tertahan.
“Lho?? Lala kenapa nangis begini?? Saya salah ya??” seketika Putu panik. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. “Maaf sekali bukan maksud saya begitu tetapi saya hanya ingin bercerita saja. Maaf ya Lala. Maaf sekali”
Melihat kepanikan Putu. Lala segera mengapus air matanya dan menarik nafas dalam-dalam.
“Saya jadi ingat mama dan papa di rumah.” Lala memejamkan matanya sejenak dan kemudian melanjutkan, “Mereka sudah banyak berkorban untuk saya. Saya jadi ingat sama adik saya yang sedang bertugas sebagai pilot penerbangan. Mereka jauh dan tidak ada disini. Tanpa saya sadari mereka selalu ingin yang terbaik untuk saya. Dari kesehatan saya, keadaan saya, kabar saya, mereka selalu mencari tau. Tapi kadang saya nggak sadar kalo ternyata mereka itu sering mengkhawatirkan saya. Kamu tau nggak apa alasan aku ke Bali?”
Putu menggelengkan kepala.
“Dulu aku pacaran sama laki-laki. Namanya Nino. Ketika kita mau tunangan. Dia malah pergi ninggalin saya dan menikah dengan perempuan lain. Jujur itu rasanya menyakitkan. Karena saya sudah lama sekali menjalani hubungan tersebut dengannya.” Lala menarik nafas panjang dan menghembuskannya, “mungkin belum jodoh. Dan saya memaklumi itu.”
“Jadi karena itu kah wajah Lala tak bersemangat seperti sekarang ini?”
“Bukan” bantah Lala cepat, “setelah mengetahui Nino dengan perempuan lain dan menikah. Saya menutup rapat-rapat hati saya. Saya lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, saya hanya bergaul dengan satu atau dua orang saja, saya lebih menikmati kesendirian saya. Sampai ketika, saya di kenalkan dengan seseorang bernama Ben. Kami selalu berkomunikasi. Tapi bukan langsung. Dan selama ini kami baik-baik saja. Tapi lama-lama ketika saya ajak Ben untuk temui saya, dia memberi saya banyak alasan. Dia sering sekali menolakan sehingga membuat saya harus mengalami yang namanya resign.”
“….”
“Menurut kamu laki-laki itu tidak serius kan dengan saya? dia tidak berkorban apapun untuk saya? yakan???”
“La, ndak semua laki-laki melakukan pengorbanan dengan cara-cara yang formal. Yang sering kamu saksikan di tivi-tivi, La. Ben punya alasan tersendiri kenapa dia melakukan itu terhadapmu.”
“Tapi kita kenal nggak Cuma seminggu atau dua minggu atau sebulan apalagi dua bulan. Tapi setahun lebih. Kita udah mengikat seperti layaknya orang menjalin hubungan. Dan kenapa berkali-kali saya ajak dia bertemu, sama sekali tidak direspon dengan baik Putu. Apa orang seperti itu masih dikatakan berkorban??”
“Dia sering komunikasi dengan mu kan?” tanyanya simple.
Lala pun menanggukan kepala
“Itu lah pengorbanan dia. Itu cara dia berkorban. Coba kalo dia nggak berkorban untukmu. Dia mungkin ndak akan mau mempedulikanmu. Lagi pula jarakmu dengan nya jauh. Terpisahkan. Bukan 1 KM atau 2 KM tapi ber KM-KM bahkan ber MIL-MIL bukan?? Selama dia tidak menyingkirkanmu dari hidupnya berarti kamu masih berarti dihidupnya.”
Lala berpikir berkali-kali. Mencoba berpikir dan mencerna perkataan Putu. Dan entahlah, hatinya mengatakan bahwa Putu, benar. Hampir setiap jam Ben berkomunikasi dengannya. Tak sedikitpun ia diabaikan oleh Ben. Dan Ben sudah berkali-kali berkata bahwa, Lala-lah yang berarti untuknya. Kali ini, Lala coba untuk menerima kenyataan ini. Karena laki-laki dan perempuan itu punya perbedaan yang jauh. Perbedaan yang membuat hukum alam pun tak bisa memungkirinya.

Suara pintu yang berdenyit itu menyadarkan Lala dari lamunannya. Jihan yang sudah diambang pintu menghampiri Lala dengan panik.
“Kemana aja sih lo??!!! Gue cari-cari nggak ada sama sekali. Khawatir tau nggak!!!” sewot Jihan. Lala beranjak dari kursi dan memeluknya.
“Maaf ya, Jihan. Gue nggak kasih tau orang rumah. Gue ngerasa pingin menyendiri aja. Ben buat gue bingung!” kata Lala sambil menangis.
“Cup… cup.. udah dong, udah… oke sekarang kita pulang ya. Kita cerita dirumah.”
Lala yang masih setengah menangis menyetujui ajakan Jihan.
“Makasih ya Putu. Makasih banget.” kata-kata terakhir Lala sebelum ia meninggalkan café. Lala mengulurkan tangan kanannya. Dan Putu menerimanya dengan baik.
“Sama-sama Lala. Saya senang sekali mengenal kamu. Saya doakan, kamu mendapatkan yang terbaik.”
***
Pagi-pagi buta Lala sudah siap berkemas untuk terbang ke Jakarta.
Walaupun ia masih merasa kecewa karena Ben tidak datang sama sekali ke Bali. Ia tetap bersyukur karena dengan adanya Putu, ia sadar bahwa pengorbanan itu bukan seperti di film-film dongeng atau cerita-cerita fiksi yang bakal happy ending.
Ia juga sadar bahwa, dirinya hanya selembar kertas kecil yang tak akan ada artinya jika tanpa ada goresan tinta berwarna-warni.
“Makasih ya om. tante dan Jihan udah mau anter Lala sampai bandara.” Kata Lala.
“Lo baik-baik aja kan???” bisik Jihan, pelan.
“Gue baik-baik aja kok. Mungkin benar, pengorbanan itu nggak selalu sama. Pasti beda-beda.” Balasnya tersenyum lega.

Handphone Lala berdering amat keras.
Lala pun segera mencari sumber suara tersebut. Setelah ia lihat, ternyata…
“Ben telephone.” Lala berbisik kepada Jihan dan ia segera memisahkan diri dari keramaian.
“Halo???” sapa Lala, sedikit gugup.
“Hey, udah di airport belum???” tanya Ben, santai.
“Udah kok.”
“Di Ngurahrai kan?”
“Iya.” Jawabnya heran, “kenapa???”
“Kamu nggak mau temenin aku disini????”
Lala heran dengan perkataan Ben. Ia tidak mengerti apa maksud Ben. Menemani ia disini???
“Ma.. maksud ka.. kamu???”
“Tengok ke arah jam dua belas, sekarang”
Perlahan Lala memutar tubuhnya dan menghadap kearah jam dua belas. Masih dengan mengenggam selular nya di tangan kirinya. Ia masih bingung dengan apa yang di maksud Ben.
“Yang kamu liat sekarang di arah jam dua belas siapa???”
Lala menajamkan manik-manik matanya dan melihat secara teliti.
“Sekarang kamu matiin hape kamu, terus liat dp bbm aku.”
Lala pun langsung menuruti kata-kata Ben. Dan ternyata…
Hal yang benar-benar buat Lala terkejut, shock dan hampir menangis.
Ia tidak menyangka, Ben berada di airport Ngurahrai saat ini. Berada tepat didepan Lala. Dengan gayanya yang casual membuat Lala speechless.

“BEN???!!” teriaknya yang memekik telinga siapapun yang mendengarnya.

Laki-laki yang ia pikir tak pernah serius, yang ia pikir hanya bisa berdunia maya saja. Bahkan ia sempat pesimis sama yang ia jalani selama ini. Tapi ternyata doanya di kabulkan oleh Tuhan. Di pertemukan dalam keadaan yang sama sekali tidak ia duga. Kini ia bisa memeluknya dan merasakan hangatnya didekap Ben.

Terima kasih Putu, doa mu cepat sekali di jabah oleh Tuhan. Saya tidak tau harus berterima kasih bagaimana lagi. Saya benar-benar merasa jadi orang yang berarti saat ini. Dengan bertemu dengan Ben membuat saya siap menjalani skripsi. Dan siap untuk hidup mendampingi Ben. Selamanya. 

Jogjakarta its My Hometown, Jakarta its My Live (part 2)

Kita lanjut lagi………..

Sebelum lebaran tiba gue diajakin mbak Unny untuk bukber dengan teman-teman SMK nya, namanya REVIS.
karena berbasis STM, otomatis temen-temennya cowok-cowok semua,
Dan malam itu menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Ya, mungkin ada beberapa foto yang belum terupload, kita tunggu saja…

image
Di Nol KM.
Waktu itu lagi sepi banget jadinya kita semua pindah deh ke suatu tempat yang cozy.

image
Tebak ya kalo tau tempat ini!!!

imageimage

OKE DEHH!!!
ehem *batuk*

Sekarang sudah lebaran saatnya kita berlibur di Pantai Parang Tritis.
Konon katanya, di Pantai ini ada seorang Ibu Ratu penguasa Lautan ini. Dan katanya, kalo kita main dekat pantai bisa keseret ombak dan disebut-sebut sebagai tumbal.
Padahal tidak sama sekali. Dalam ILMU Geografis, didalam lautan ini terdapat lempengan bumi. So, arus dan ombak nya pasti besar. Jadi jangan menyangkut pautkan dengan hal-hal mitos tadi ya. Kalo berlibur sewajarnya aja. Boleh main di bibir pantai tapi tidak ketengah lautan yaaaa….

image
Ceritanya sihmau menikmati sunset gitu atau matahari terbenam. Romantis gimana gituuuuu

imageimage
Foto diatas adalah cepuring. Banyak wisatawan lokal maupun non lokal yang sering kesini. Banyak yang bilang sih buat pesugihan. Tapi TIDAK SAMA SEKALI.
kalau kita menanggapinya dengan cara “ALLAH S.W.T ITS MY GOD” pemikiran-pemikiran tersebut tidak mungkin ada.
Tergantung individualnya sih….

image
Ini akses jalan menuju Cepuring…

Selesai itu semua saatnya kita kembali ke Jakarta.
Bertemu belahan jiwa dan belahan ….
Cari aja sendiri titik-titiknya.

Nggak semua gue sampai kan tapi cukup ini saja ya…

byebye *pelukcium*

Jogjakarta its My Hometown, Jakarta its My Live (part 1)

Helloooooooo JAKARTAA!!
kalo kata anak gaul sih JEKARDAH!!

Gue lega banget setelah menapaki kaki di tanah kelahiran gue. setelah melalui berjam-jam perjalanan dari Jogjakarta menuju Purwokerto kemudian lanjut lagi ke Jakarta.

Sudah hampir 3 minggu gue disana. Gue berlibur yang menurut gue menyenangkan banget.
Selain bisa berlebaran bersama keluarga besar di Jogjakarta, gue bisa menikmati perjalanan yang menyenangkan diawali dari touring menggunakan Motor bersama bokap gue.

Setelah mendapat kabar sekolah libur yang jatuh pada tanggal 11 Agustus, tanpa pikir panjang gue langsung minta ke bokap gue buat langsung ke Jogjakarta.
Dibawah ini ada beberapa foto yang gue ambil selama perjalanan.

image

Ini di Pantura Indramayu. Jadi bisa dibilang ketika gue melihat terbitnya sang Fajar. Gue udah bukan di rumah lagi tapi sudah di jalan menuju Jogjakarta

Bisa di lihat selanjutnya»>

image

Jalanan masih sepi karena masih lebih dari H-10, jadi kepadatan lalu lintas tidak terlalu terasa guys.

image

Kalo disini kita sudah sampai brebes, arah mau ke Purwokerto. Ini tempat yang selalu gue sukai saat pulang. setiap kali sudah bertemu rel kereta api antara lurus ke semarang dan kekiri ke arah Purwokerto gue menganggap bahwa ini sudah setengah perjalanan.

image

Nah, yang ini, sudah mendekati Jogjakarta, alias mendekati Kulon Progo.

Next,
Setelah menghabiskan hampir 20 jam perjalanan menuju Jogjakarta.
Gue pulang kerumah gue dan bokap balik lagi ke Jakarta buat touring lagi sama nyokap bawa motor satunya. Dibilang lelah, pasti. Tapi bokap itu berjiwa muda. Nggak akan berhenti sebelum benar-benar jatuh sakit.
GREAT!!!

image

Ini saat gue ke Malioboro.

And next time
saat bokap dan nyokap sudah tiba di Jogjakarta. Gue dan keluarga memilih untuk tinggal dirumah mbah gue yang satu lagi. Di daerah Bantul, Jogjakarta.

Sebelumnya kita MINAL AIDIN WAL FAIDZIN YAA…..
SELAMAT HARI LEBARAN!!! 1433 H.

“Sugeng Riyadi Sedoyo Kalapatan Kulo, Kulo Nyuwun Pangapunten Nggeh”

image
Didepan rumah sendiri nih…

image
Me and My Sister (Mbak Unny)

image
My Father and My Mother. Hehehe….

See Part 2, Guys!!

Cerpen “Terakhir”

“Ternyata ilmuan-ilmuan itu canggih-canggih ya, Han.” Celetuk Tora.
Dibawah pohon jambu sekolah yang rindang, Tora dan Hanna asyik ngobrol tanpa sedikitpun memperhatikan keadaan sekitar.
Ada banyak yang memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan. Melihat dengan wajah penuh sinisme. Melihat dengan berpikir seakan-akan Pentolan Sekolah Pratama Wisuda sedang mengobrol dengan upik abu yang tidak se-level dengannya.
“Maksudnya Tor?” tanya Hanna mengernyitkan dahi.
“Iya, mereka bisa memprediksi kalo cewek lagi menstruasi pasti bawaannya ngomel-ngomel, cemberut, pasang muka punya banyak hutang, sampai.. sampaii….” Belum selesai menyelesaikan pembicaraan Tora melihat wajah Hanna yang menahan emosi.
“Maksudnya apa Tora??” tanya Hanna belanjut sambil menajamkan manik-manik matanya.
“Hehehe, nggak ada maksud kok Han.” Balasnya dengan menunjukan kedua jarinya, telunjuk dan jari tengah di hadapan muka Hanna.
Hanna mencubit bagian rusuk Tora dan Tora pun meringis kesakitan. Hanna tak mempedulikannya dan tetap membiarkan cubitannya mengencang. Sampai akhirnya Tora mengehentikannya dengan cara sedikit berteriak.
“UDAH HAN, UDAH!!!”
Hanna mengendurkan cubitannya dan lambat laun melepaskannya.
“Oke udah, tapi kali jangan bahas soal cewek menstruasi. Lagi pula, tau tentang apa sih lo tentang mentsruasi hah???” nada Hanna sedikit meninggi. “Kayak pernah ngerasain aja!!”
Tora membalasnya dengan mecubit hidung Hanna.
“IH KOK DI CUBIT SIH???!!!” sewot Hanna.
“BIARIN!!!! WLEEEE!!!” balasnya sambil menjulurkan lidahnya dan tertawa terbahak-bahak.
Entah apa yang membuat Tora mentertawakan Hanna. Hanna hanya melihat dengan penuh keheranan dan mengusap-usap hidungnya akibat perbuatan Tora.
Seketika hening mulai menghampiri mereka. Tora yang sedari tadi mentertawakan Hanna kini mulai membungkam mulutnya. Dan Hanna mulai pasang wajah serius.
“Han…” panggilnya dengan mesra.
Hanna menoleh dan mengahadapkan wajahnya tepat di posisi wajah Tora.
“Kita akan terus begini?? kita udah kelas 3 SMA. Udah waktunya kasih tau kesemua orang.” Katanya lirih.
Hanna menatap manik-manik Tora dengan lekat.
“Jawab Hanna.”
“Lo nyerah ya?” tanya Hanna yang membuat Tora tersentak.
“Eng.. Enggak.. Mak.. Maksud gue….”
“Yaudah kalo udah interest sama yang lain.” Hanna tersenyum sambil menutupi kesedihannya.
“Enggak lah Han.. Emang gue apaan.. gue nggak akan ngelakuin itu sama elo. Gue cuma pingin kita lebih dikenal orang terutama lo. Gue mau mereka tau lo itu siapa.”
“Tor, kalo mereka nggak ada yang mau kenal gue secara dalam,yaudahlah. Ngapain di paksa.”
Tora memandang wajah Hanna dengan lekat.
“Han…” Tora memeluk Hanna dengan erat untuk kesekian detiknya. “Please, don’t leave me. I’m really loving you for now and forever.”
Hanna tersenyum lega dan perlahan melepaskan pelukan Tora.
“Udah bel, masuk yuk.” Bisiknya dan kemudian mencium pipi Tora.
“Yuk…” Tora beranjak dari kursi dan menarik tangan Hanna.
Hanna perlahan melepaskan genggaman Tora. “Lingkungan sekolah. Dilarang!!!”
“Iya, lupa.” Balasnya terkekeh.
Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah dengan santai dan seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
“Pulang nanti jalan yuk, gue mau ngajak lo ke pantai.” Ajak Tora.
“Boleh, tapi kasih tau Bunda sama Ayah dulu ya…”
“Oke deh. Gue balik kekelas dulu ya….” Hanna menganggukan kepala dan pergi memisahkan diri dari Tora.
“Abis dari mana Han??” sapa Evan dari seberang pintu kelas Hanna.
“Eh Evan. Udah lama van??” tanya Hanna basa-basi.
“Kamu itu aneh ya Han…” kata Evan ketus.
Apa maksudnya sih?? Gumam Hanna dalam hati.
“Han, hellooo…. Apa bagusnya sih Tora?? Hah??? Lo suka sama dia??? Kenapa sih lo nggak pernah bisa untuk mencintai gue??? Hahh????”
Hanna mengernyitkan dahi dengan penuh keheranan.
“Maksud lo apaan sih van? Gue bener-bener nggak ngerti.”
Evan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan keras, “Hey gue selalu melihat dengan mata kepala gue sendiri. Lo sama dia kan? Lo setiap kali berangkat, istirahat sampai pulang sekolah selalu bareng dia. Sedangkan lo ngomong sama gue nggak mau pacaran sebelum lulus sekolah. Lo itu gimana sih??? Plin-plan, nggak punya pendirian atau gimana sih??? Hah???”
Hanna terdiam dan dia tak bisa banyak bicara. Berkali-kali dia membasahi bibirnya dan menelan ludah. Entah jawaban apa yang harus ia berikan. Hanna terjebak.
Evan berdecak kesal ketika guru kelas Hanna mulai menyusuri lorong dan menuju kelas Hanna, XII IPA 3.
“Gue belum selesai ngomong!!” Evan berbisik ketelinga Hanna dan perlahan angkat kaki dari tempat.
Ya Tuhan, harus seperti apa aku ini? Aku belum bisa jujur kesemua orang, aku belum bisa banyak yang menjauhiku. Aku belum bisa. Aku masih belum bisa.
Hanna pun membeku di tempat.
“Han.. masuk udah ada guru.” Ajak Gita teman sebangku Hanna yang menyadarkan Hanna dari lamunannya.
***
“TUH KAN!!! KITA HARUS JUJUR SAMA SEMUA ORANG HANNA!!” Amarah Tora menggelegar tak terkontrol.
Air yang begitu tenang di pantai tidak seperti keadaan Tora saat ini. Hanna terpaksa bercerita tentang kejadian disekolah tadi siang ketika sedang berbincang dengan Evan.
“Mau sampai kapan Hanna. MAU SAMPAI KAPAN???!!!” nada suara Tora pun meninggi sejadi-jadinya. Kesal, kecewa bercampur amarah. Tora tak ingin Hanna tersakiti. Tapi Hanna malah mecegah Tora untuk membela Hanna. Sedikitpun Hanna tidak memberi kesempatan untuk Tora membela Hanna. Tidak sama sekali.
Hanna mulai menjatuhkan air matanya pelahan-lahan.
“Sesuai dengan perjanjian??? Iya??” suara Tora pun perlahan mulai melemah.
“Kamu nggak ngerasainkan di posisi aku?? Cuma jajan bareng kamu aja, banyak yang mencibir aku, disangka cari muka didepan kamu. Terus disangka aku cari perhatian. Jajan bareng kamu aja udah digituin. Gimana kalo mereka tau kalo aku… Apalagi kita sering melakukan bersama. Setiap hari berangkat sekolah barengan, istirahat kita di bawah pohon sekolah, belum lagi pulang sekolah kita barengan lagi. Setiap ada event-event di sekolah kita barengan terus. kita berdua nggak usah buka suara apapun, meskipun banyak yang mendesak kita untuk ngomong yang sebenarnya.” Jelas Hanna dengan tersendak-sendak. “ Suatu saat nanti ada waktunya. Sesuai dengan perjanjian.”
“Iya iya aku paham. Aku ngerti.”
“Belum lagi Tiara dan teman-temannya. Mereka team Cheers yang selalu support kamu dan team basket kamu. Dan yang aku tau Tiara…”
“Iya soal itu aku tau.”
“Nggak Cuma itu aja, Gita temen sebangku aja udah mulai nanyain kamu terus… gimana kalo aku kehilangan Gita??? Dia temanku satu-satunya Tora”
Tora memeluk Hanna seketika. Berusaha agar merasakan apa yang Hanna rasakan saat ini. Membagi perasaan yang menjadi dilema di pikiran Hanna.
“Yaudah, makasih ya sayang udah di kasih tau Evan ngomong begitu ke kamu. Tapi aku harus gimana. Bagaimana pun juga kamu itu bukan pacar aku lagi. Kamu mengerti kan maksud aku. Kita udah lama menjalani ini. Seandainya dulu kamu ingin tetep jadi pacar aku, mungkin sekalipun kamu minta putus aku fine. Tapi kalo sekarang. Aku nggak bisa menuruti itu Hanna.”
Tora melepakan pelukannya dengan perlahan dan memperhatikan manik-manik mata Hanna dengan seksama, “Gue sayang elo manusia lohan. Lihat deh jidat lo kayak ikan lohan. Hahaha.”
“Biarin lohan, yang penting nggak kayak lo muka gagal arab. hahaha”
“Eh gue keturunan Turki, lohan.”
“Oh gitu ya???” tanya Hanna yang menggoda Tora untuk menciumnya.
Dibawah sinar sunset, Tora mencium bibir Hanna.
***
Tora melihat Evan dari kejauhan sedang berbicara empat mata lagi dengan Hanna pada jam istirahat sekolah. Tora pun melakukan rencana dengan sengaja tidak pulang hari ini bersama Hanna. Hanna yang mendapat alasan bahwa Tora ada tugas mendadak dirumah Ridho teman sekelasnya. Hanna berusaha mempercayai alasan tersebut walaupun sebenarnya ada keraguan didalam hatinya. Pasti ada sesuatu yang disembunyiin, katanya dalam hati.
“Maaf ya sayang, aku nggak bisa pulang bareng kamu hari ini.” Kata Tora saat di parkiran sekolah.
“Iya nggak apa-apa. Emang beneran di rumah Ridho ngerjain tugasnya?” tanya Hanna, polos.
“Iya, kalo nggak percaya, tanya Ridho deh…” jawabnya, “Eh itu Ridho! Dho, sini!!!”
“Kenape bro??” Tanya Ridho yang gayanya selalu cool. Kata para junior sih gitu.
“Jadi kan ngerjain tugas dirumah lo?” tanya nya dengan mengedipkan mata.
“I-iye.. Jadi dong… Nih mau cabut ke rumah. Lo dateng ye Tor.” Balasnya dengan menyakinkan.
“Sip!!!” Kata Tora sambil mengacungkan ibu jarinya.
“Oke deh…. Gue cabut ye… Duluan Han.. See you Tor.” Ridho balik badan dan menuju parkiran. Dengan raut wajah yang penuh heran dan bertanya-tanya, kok gue jadi kayak orang gila ya ngobrol sama Tora. Namun, ia tetap berjalan menyusuri jalan dan motor kesayangannya telah menanti.
Butuh beberapa menit untuk pindah lokasi antara parkiran mobil siswa dan parkiran motor siswa.
“Aku stop-in taksi ya?” tawaran Tora.
“Nggak mau.”
“Kok nggak mau sih?? Mau nungguin aku??? Sekarang sih aku mau rapat basket dulu. Abis itu baru cabut deh ke rumah Ridho.”
“hmmmmm”
“Gimana??? Aku panggilin taksi ya biar cepet pulang.”
Lama Hanna berdeham ia pun mulai ambil keputusan.
“aku naik bis aja.”
Mata Tora terbelalak. Nggak biasa-biasanya apa mungkin karena gue nggak nganterin dia pulang? Tapi biasanya dia mual kalo naik bis, gumam Tora dalam hati.
“Yakin nggak mual? Nanti muntah lho.”
“Enggak!” bantah Hanna mentah-mentah.
“Yaudah kamu mau aku anterin sampai halte atau enggak?”
“Enggak usah.” Jawabnya diselingi senyuman.
“Yaudah deh aku ke secretariat ekskul dulu ya… nanti kalo udah selesai rapat ekskul aku kabari kamu.”
“Oke deh…” Perlahan Hanna berjalan menjauhi Tora menuju halte bis. Tora pun masih memperhatikan Hanna dari kejauhan.
Sampai Bis tiba kemudian Hanna menaiki dan Tora masih memperhatikan dari kejauhan. Ketika Hanna telah menaiki bis Tora pun membalikan badannya dan menuju secretariat ekskul.
Namun tanpa sepengetahuan Tora, Hanna tiba-tiba…
“Bang… bang berhenti disini bang!!!” perintahnya sambil menggedor-gedor atap bis.
Supir langsung mengerem mendadak diselingi histerisnya penumpang yang hampir sebagian mengomel-ngomel.
“Neng, emangnye udeh sampe??” Tanya kenek bis.
“Enggak sih.” Jawab Hanna. “Siapa juga yang mau naik bis”
“Eh neng, kalo nggak mau naik bis jangan stop-in tadi di halte.” Balas penumpang lainnya.
“Iya maaf-maaf.” Hanna pun jadi sedikit tergesa-gesa saat menuruni bis.
Dan bis tersebut berlalu begitu cepat.
***
Sekarang Hanna berada di warung Mang Dadang. Warung langganannya siwa-siswi Pratama Wisuda. Sambil menyeruput softdrink. Hanna berkali-kali coba menghubungi Dirga teman terdekat Tora dan Ridho.
Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya telephone diangkat Dirga.
“Halo..” sapa Dirga dari seberang.
“Halo, ga. Ini gue Hanna.” jawab Hanna pelan-pelan.
“Oh iya, iya sebentar Han. Gue lagi ditempat ramai sebentar ya sebentar..” Dirga menggantung pembicaraan disebrang.
“Iya.” Balas Hanna. Entah apa yang di lakukan Dirga di sana. Hanna bersedia menunggunya.
“Hallo Han, sorry sorry. Tadi ramai banget. Eh ada apa nih?? tumben telephone.” Tanya Dirga penasaran.
Hanna mengheningkan suasana sejenak. Berpikir berkali-kali atas tindakan yang ia lakukan saat ini. Akan ada dampak apa nantinya. Apakah berdampak baik atau justru memperburuk keadaan.
“Hey Han, kok melamun. Ada apa??? Bukan untuk tanyain Tora kan??”
Hanna terkejut mendengarnya. Entah karena tepat tebakan Dirga atau merasa ini akan memperburuk keadaan.
“I-iya…” jawab Hanna ragu-ragu.
“Ada apa sama calon suami lo??”
Hanna semakin shock mendengar Dirga berbicara itu. Matanya sontak melebar dan Mang Dadang yang sedari tadi serius mengisi TTS ikutan terbawa suasana dengan mimik wajah Hanna yang menegang.
“Ada apa neng Hanna?”
Hanna mengabaikan pertanyaan Mang Dadang.
“Ga, Tora udah cerita???” tanyanya dengan terbata-bata.
“Udah kok. Tapi lo jangan marah ya. Gue bisa jelasin. Kalo waktu itu…”
Mendengar penjelasan Dirga, Hanna terbawa emosi. Ia segera membayar softdrink dan beranjak ke sekretariat ekskul.
Dengan perasaan yang bercampur aduk. Ingin segera ia temui Tora dan meluapkan semuanya.
TEGA YA LO TORA!!! Kecewanya dalam hati.
***
“Oke rapat hari ini saya tutup. Terima kasih buat temen-temen semuanya. Semoga pas kompetisi nanti kita bisa kasih perform yang terbaik. Dan bisa menunjukan ke sekolah kalo tim Basket PRAWIS Bisa!!” seru Xaverius sang leader basket pun menutup rapat untuk kompetisi basket antar daerah nanti.
“Gue mau ngomong sama lo van.” Bisik Tora ketus.
Tora mencari tempat sepi dan Evan mengikuti dari belakang.
“Mau lo apa van ngomong begitu sama Hanna.” tanyanya sengit
“Ngomong apaan?”
“Jangan pura-pura bego, tolol!”
“Eh santai dong! Nggak usah nyolot gitu.” Evan pun tak kalah sengit.
“SEKARANG GUE TANYA. LO MAU NYA APA??? HAH???”
“Gue nggak ngerti maksud elo!!!”
“Halah!! Gue tau lo suka Hanna, gue tau lo naksir Hanna, gue tau lo sayang Hanna, tapi nggak usah lo campuri urusan gue sama Hanna. NGERTI NGGAK LO?? ATAU LO ITU BUDEK?? TULI YA???” emosi Tora meninggi.
Evan membeku ditempat.
“INGET YA!! NGGAK USAH LO CAMPURI URUSAN GUE SAMA HANNA!! NGGAK USAH LO GANGGU-GANGGU HANNA. KARENA LO BUKAN SIAPA-SIAPA DIA!!!” hantaman keras ke dinding dari Tora dan ia pergi meninggalkan Evan di tempat.
“Tunggu…” suara Evan menghentikan langkah Tora.
Tora menoleh setengah kepalanya.
“Gue tau lo sama Hanna, udah…” belum selesai Evan berbicara Hanna datang dari tumpukan bangku-bangku sekolah yang tak layak terpakai.
“Iya… Kalo lo udah tau sekarang mau apa?!! Mau disebar keseluruh sekolah?? Iya?? Banci lo!!” suara itu mengagetkan Tora dan Evan seketika.
“Hanna???” Evan terkejut begitu pula dengan Tora.
“Tora itu tunangan gue. Jelas?? Untuk memperjelas lagi, Tora Ahmad Soebardjo adalah…” belum selesai berbicara Tiara dan kawan-kawan datang akibat suara-suara yang gemuruh.
“Ih… kok heboh banget sih?? Ada apa? Ada apa??? Kok ada Tora,Evan, upik abu Hanna”
“JAGA OMONGAN LO YA!!” bentak Tora.
“Tora…” bisik Hanna menenangkan. “Ada apa tuan puteri Tiara???”
“Nggak usah banyak omong deh upik abu.” Balas Tiara, angkuh.
Tora terkekeh dan tertawa geli yang cukup lama sampai akhirnya dia terdiam.
“Gue emang sayang sama Hanna sejak SMP. Alasan gue masuk sini juga karena Hanna. Awalnya gue ragu masuk sekolah se elite ini. Tapi gue berusaha biar bisa masuk disini. Terutama bisa bertemu dengan Hanna. Tapi akhirnya Dirga kasih tau gue yang sebenarnya. Kalo Tora dan Hanna… Oke!! jujur gue kecewa banget. Gue bener-bener sakit hati. Gue sedih banget. Gimana pun juga gue harus terima. Kalo Tora sama Hanna udah tunangan. Selamat ya!!”
“APAAA???!!!!” teriakan itu memekik telinga siapapun yang mendengarnya. “EVAN?! LO SERIUS??!!!!”
“Tanya aja sama mereka.” Evan mengabaikan pertanyaan Tiara dan pergi meninggalkan yang lainnya ditempat.
Tiara pun seketika pingsan mendengar kabar tersebut. Dan teman-teman Tiara sontak histeris melihat leader mereka ambruk.
***
“Kenapa sih kamu nggak jujur sama aku, Tor??? Kamu juga udah cerita kan sama Dirga soal kita. Kenapa kamu nggak bilang ke aku dulu??? Kamu kenapa sih Tor ngerahasiain ini semua. Kayak soal beginian. Kamu nggak ada tugas kan? Kamu emang mau ketemu sama Evan kan? Kamu kok ngebohongin aku??? ”
“Han, masih inget nggak pertama kali kita pacaran? Waktu SD kan?? Kelas 3. Aku dulu nggak tau apa itu pacaran. Ya aku ngejalanin aja. Pas SMP aku sempet suka sama Jessica lho. Temen se-geng kamu itu. Tapi nggak tau kenapa aku Cuma suka sesaat aja. Karena aku terlalu sering ketemu kali ya dari pada yang lain. Sampai akhirnya aku siap tunangan sama kamu. Sebentar lagi kita lulus pakai seragam Han.”
Hanna mengernyitkan dahi. Ia benar-benar bingung dibuat Tora.
“Tetap jadi sahabat aku ya. Yang nemenin aku setiap hari. Sampai kapan pun Han. Sahabat yang nggak akan pernah putus. Mungkin ada mantan pacar tapi kan nggak ada mantan sahabat”
Hanna tersenyum sumringah dan memeluknya.
***

Bukan Salah Kostum Tapi Salah Perasaan

Hal konyol yang pernah gue lakukan bersama orang lain saat gue berpergian selain malu bertanya. Atau gue buta peta karena nggak ajak Dora The Explore yang lagi sibuk shooting stripping . Bahkan nyasar karena nggak tau jalan. Yaitu ketika gue pergi bersama teman yang merangkap sebagai kakak kelas gue namanya Vita. Ke acara Ultah Radio Prambors ke 41 tahun di Gandaria City. Dengan mendadaknya gue menerima tawaran Vita untuk ke acara tersebut. Gue juga nggak akan tau seperti apa acaranya.Gue dan doi pun sudah merencanakan untuk pergi bersama. Kenapa harus direncanakan? Iya, sebenarnya sih kita hanya pergi biasa aja. Mengahadiri acara ulang tahunnya Radio Prambors. Tapi yang buat nggak biasa adalah besoknya Vita akan mengalami Ujian Nasional Produktif. Dan itu hanya dilakukan satu kali dalam satu kesempatan. Katanya doi, “ujian nasional produktif itu paling susah. Bukan susah. Tapi menjebak” plin plan memang saat mendengar dia berbicara demikian. Tapi doi melakukan itu dengan sangat antusiasnya doi curhat ke gue. Doi melanjutkan, “saking menjebaknya soal itu kita jadi harus cermat dan teliti dalam mengerjakan soal” hey, anak SD jago salto juga ngerti kalo ngerjain soal harus cermat dan teliti. Begitulah kurang lebih doi bercerita ke gue dengan menggunakan nada yang tidak senada dengan kebahagiaan gue pada hari itu.Gue merasa bahagia banget saat itu karena setelah bertahun-tahun gue mengidola tiga pria ganteng yang punya suara merdu kemudian band favorite gue serta mantan pacar gue (maaf! pengaharapan ABG labil). Akhirnya gue bisa bertemu mereka di Ultah Radio Prambors. Gue sangat berterima kasih banget sama Vita karena udah ngajak gue ke ultah Radio Prambors. Gue pun bisa melihat tiga pria ganteng (RAN), terus band favorite gue (Nidji) dan mantan pacar gue (Gamaliel). Untuk soal mantan pacar terkesan agak menjijikan. Bukan, agak. Tapi sangat menjijikan. Karena pasti Gamal pun akan enek dan mau muntah setelah tau kalau doi di aku-akui oleh gue sebagai mantan pacarnya. Atau lebih parahnya. Semua fans Gamal terutama yang cowok-cowok akan benci bahkan mengutuk gue yang lemah dan tidak berdaya ini. Hm, sebentar. Apakah penggemar Gamal cowok-cowok semua?? !!!
***
Seperti yang gue ceritakan tadi. Sebelum menghadiri acara tersebut Vita-lah yang duluan mengajak gue untuk menghadirinya. Dan memang sebenarnya gue benar-benar tidak update dalam soal event-event seperti itu. Tapi yang membuat gue tertarik saat Vita kasih tau ke gue adalah temanya ‘anti kekerasan’ terutama untuk anak mudanya. Semua kawula muda (sapaan pendengar dari Radio Prambors) juga diajak untuk flash mop. Diiringi lagu mbak Rihanna yang judulnya We Found Love. Ya, gue sendiri sih nggak tau kayak gimana acaranya nanti. Bagi gue acara ini menarik banget untuk dihadiri. Dan gue berharap gue tidak bertemu dengan orang-orang yang gue kenal sebelumnya.Dengan rasa PeDe yang teramat PeDe. Gue pun mau belagu-belaguan di facebook. Dan niatnya mau bergaya abis-abisan.
“Gue yakin pasti orang-orang yang kenal gue difacebook nggak ada yang keacara tersebut. HAHAHAHAHA *KetawaLicik* (dalam hati)”.
Malam sabtu alias malam sebelum gue ke acara tersebut. Gue pun update status di account facebook gue. Sambil ngupil gue update melalui handphone colek screen gue,
“Siapa yang besok mau ke Gandaria City?? Angkat keteknya!! Gerak!!!”.
Kemudian gue keluar dari account facebook gue untuk beberapa saat. Setelah gue selesai ngupil dan menge-check kembali ada lumayan lebih dari lima pengguna facebook. Meng-Like status yang baru gue share. Padahal friend facebook gue sudah seribuan lebih. Terlalu miris memang. Dari sekian banyak teman facebook hanya ada sedikit yang mengetahui keberadaan gue. Mungkin keberadaan gue hanya dapat dilihat dari ilmu kebathinan. Kurang lebih gue demit. Kemudian ada beberapa orang yang komentar. Gue rasa komentarnya juga kurang terlalu menonjol. Tapi kemudian salah satu teman lama gue, Shifa. Yang sekarang sudah beda sekolah dengan gue. Doi pun ikut komentar. Dan ternyata doi juga dateng ke acara tersebut bersama teman-teman Cinematografi-nya. Seketika dan saat itu juga gue merasa kecewa,
“Ah ternyata ada aja orang yang gue kenal dateng ke acara tersebut.” dengan raut wajah yang bad mood abis. Gue melanjutkan, “Nanti ada siapa lagi ya kira-kira kalo gue kesana???!!! Jangan-jangan nanti ada guru-guru SD, SMP bahkan SMK gue lagi. Atau mungkin ada tetangga-tetangga gue lagi. Huft, nggak banget sih kalau ketemu yang itu-itu aja.” Gerutu gue dalam hati.
***
Malamnya gue mencoba untuk tidur sejenak. Setelah sekian jam gue online di depan computer. Dan baru bisa tidur jam setengah tiga pagi. Seorang jombloers seperti gue. Tidak merasakan yang namanya malam minggu. Tetapi adanya hanya sabtu malam.Sabtu malam gue ada masalah sama Radit. Dia minta gue jujur. Gue bingung. Gue harus jujur yang seperti apa? Sedangkan gue tidak melakukan kebohongan apa-apa pada saat itu.
Raditya: Udah kamu jujur aja sama aku fit. Kamu cerita apa aja sama Era?
Gue: jujur yang bagaimana sih? Gue nggak ngerti.
Raditya: dia marah-marah sama aku. Dia juga bawa-bawa nama kamu.
Gue: kalo dia marah-marah sama lo berarti dia emang ada masalah sama lo bukan sama gue.
Raditya: kamu baca SMS sebelum ini ga sih?? Dia bawa-bawa nama kamu.Gue: emang bawa-bawa gimana?
Gue: lo mau gue jujur sama lo?
Raditya: terserah
Gue: kok gitu sih??Cukup panjang percakapan gue dan Radit melalui SMS. Yang gue lakukan saat Radit meminta gue untuk jujur adalah gue sedang masak nasi. Itu pun sedang disuruh nyokap gue. Apa Radit butuh kejujuran ‘Bagaimana cara memasak nasi yang benar? Agar nasinya tidak berubah jadi bubur’ atau ‘Seberapa banyak air yang dibutuhkan? Agar airnya tidak kekurangan dan terasa kurang matang’. Tetapi jelas bukan itu yang doi butuhkan. Doi nggak butuh cara memasak nasi yang benar atau seberapa banyak air yang dibutuhkan. Yang dia butuhkan saat itu adalah penjelasan dari gue. Penjelasan kenapa Era marah sama Radit. Dan kenapa Era bawa-bawa nama gue. Untung Era tidak bawa-bawa badan gue. Karena badan gue sangat berat jika dibawa Era.
***
Sabtu malam itu berubah menjadi sabtu ‘malam konyol’. Gue paling tidak interest mengurusi masalah yang tidak jelas karena pihak yang memaksa gue untuk gabung dalam masalahnya tidak memberi penjelasan sama gue. Dan gue juga bukan tipe orang yang lari dari masalah kok. Sampai keujung dunia pun kalau masalah akan gue selesaikan. Dengan cara baik-baik. Dan dengan pembicaraan yang baik-baik pula. Jadi kalau sekiranya caranya konyol dan pembicaraannya kurang enak didengar. Mungkin gue lebih kalem. Dan tidak menanggapi kalau itu masalah. Gue malah menganggap itu hanya sharing seseorang yang lagi kalang kabut mau curhat sama siapa. Dan seseorang itu malah melibatkan gue.Itu pula yang menjadikan alasan kenapa gue tidur jam setengah tiga pagi. Bukan karena kepikiran tentang ‘masalah’ itu. Tetapi karena berhubung itu ‘malam konyol’ gue jadi konyol curhat-curhatan sama teman lama gue lewat facebook yang tiba-tiba kayak hilang ditelan bumi. Namanya, Rizky. Doi yang berbadan ‘subur’ ini hilang entah kemana setelah lulus SD. Dari SD juga kita sering main bareng. Kita main lari-larian, main bekel, dan main tak umpet. Ini memang sangat unyu. Meskipun Rizky cowok tulen dan sekarang pun doi sudah punya pacar. Tetap aja nggak merubah kenangan itu. Bahkan saat masuk SMP. Kita pun masih diberi kesempatan oleh Allah SWT. Untuk pergi tetap bersama. Tapi sayangnya hanya nama doi yang tertera. Dan setau gue saat itu doi justru nggak sekolah di Jakarta.Berlama-lama didepan komputer akhirnya membuat gue lelah dan bosan. Gue mulai kibarkan bendera putih. Tanda perdamaian dengan ‘malam konyol’. Bersiap untuk membuat pulau kapuk dan membuat mimpi yang indah. Walaupun hubungan gue dengan Radit belum membaik. Sampai facebook gue diblokir sama Radit. Tapi gue tetap berharap kalaupun ini masalah. Semoga cepat selesai. Dan tidak merusak kebahagian gue esok hari. Fine and thanks.
***
Jam Sembilan pagi lebih gue terbangun lelapnya tidur gue. Gue mulai membuka komputer dan melanjutkan online. Ini kegiatan yang sering gue lakukan saat weekend. Malam sebelumnya. Radit berusaha menghubungi gue atau meminta gue menghubungi dia jam tujuh pagi nanti. Karena gue bangun agak siang. Akhirnya gue baru SMS Radit jam Sembilan lebih hampir jam sepuluh. SMS dengan kata “bocah”. Pingin pancing dia aja. Kira-kira dia udah bangun belum ya? Beberapa menit kemudian akhirnya dia membalas dengan balasan, “bocah?”Sebenarnya gue nggak ada maksud gue ngatain dia benar-benar ‘bocah’. Kalau dia ‘bocah’ gue juga dong. Soalnya kita sama-sama tidak saling menghubungi jam tujuh pagi. Sepele ya. Dan tiba-tiba Radit minta maaf sama gue. Gue heran banget waktu itu. Setelah facebook gue diblokir abis-abisan. Sampai gue merasa kehilangan dia. Dia pergi dengan seenak hatinya. Dan lagi-lagi gue seperti ‘kantong plastik’. Radit datang. Kemudian menyimpannya di ‘kantong plastik’. Dan Radit pergi. Mengambil apa yang telah disimpannya di ‘kantong plastik’. Tanpa jejak. Dan kembali lagi. Memberikan ‘sesuatu’. Itu manis. Dan lucu.Setengah tidak percaya sama tindakannya. Yang sudah bersikukuh agar gue jujur. Sedangkan gue tidak tau. Gue harus jujur seperti apa. Dan gue merasakan saat Radit memaksa gue untuk jujur. Itu karena Era marah sama Radit. Dan Radit takut kehilangan Era. Karena Radit sayang Era. Itu kesimpulan gue saat tahu perasaan Radit yang tadinya emosional. Dengan semalam saja Radit jadi mencair. Bagaikan es batu di Kutub Utara yang mencair karena Global Warming yang mendadak.Terjadi salah paham antara Radit dan Era. Radit mengira gue ngomong yang macem-macem sama Era. Sedangkan Era kesal karena Radit tidak memberi tahu gue kalau sebenarnya Era dan Radit sudah lama kenal. Hal seperti ini menjadi sangat besar. Terasa unmood seketika. Buat gue jengah. Padahal kami hanya salah paham. Tapi kok rasanya bête banget ya???
***
Account facebook gue masih gue buka di komputer. Gue mencoba melihat wall to wall Radit dan Era. Ada banyaknya puisi-puisi cinta di dinding Era dari Radit. Sampai akhirnya gue melihat tautan dari youtube. Lagunya J-Rocks yang judulnya ‘Ya, Aku’. Semakin memperkuat dugaan gue. Kalau Radit memang sayang Era. He’s loving her.Perasaan gue jadi gundah gitu. Aneh.Hening.Tatapan gue kosong.Dan gue mencoba cari cahaya dalam hati gue.Apakah gue sudah terjebak?Radit pun menchat gue di facebook. Gue membalasnya. Dan berusaha mencairkan suasana yang sebelumnya menegang karena salah paham.
***
Lama ber-chatting dengan Radit di facebook. Akhirnya gue coba menghubungi Vita. Memastikan sekali lagi untuk pergi ke Gandaria City. Dan menghadiri ultah Radio Prambors. Gue dan Vita pun sepakat untuk pergi setelah Dzuhur.Tiga puluh menit sebelum berangkat gue sudah siap dan rapi.Kemeja berwarna biru laut dan jeans belel. Berserta tas punggung berwarna coklat. Membuat gue nyaman saat memakainya.Tidak terlalu banyak yang gue bawa didalam tas. Hanya sebotol air minum, beberapa buku klipingan, dompet, dan handuk. Gue yakin akan menggunakan handuk kecil berwarna yang warnanya sesuai dengan kemeja gue saat itu. Gue tipe seseorang yang menyukai warna biru. Bagi gue biru itu tenang. Dan gue berharap selama perjalanan dari rumah ke Gandaria City dalam keadaan tenang dan selamat sampai tujuan.Gue mulai pamit sama kedua orang tua gue, mencium tangan bokap dan nyokap gue, “bapak… ibu… doakan anakmu agar aku selalu dalam lindungan-Nya”.
Kemudian nyokap gue menatap dengan mata nanar, “jaga jasad mu baik-baik nak…”.
Bokap gue pun dengan wajahnya yang gagah, dagunya yang kokoh, kumisnya yang ningrat, rambutnya potongan cepak lalu angkat bicara, “ingat!” serunya. Bokap melanjutkan, “Selalu pakai lotion anti nyamuk.” Dengan gaya seperti mau menghadapi peperangan di medan perang.Ini sama sekali terasa seperti mau berjuang di medan perang.
Tapi ingin camping pramuka sewaktu SD dan kedua orang tua kita tidak diizinkan oleh Pembina untuk ikut camping bareng. Sungguh menyedihkan.Gue berangkat. Menuju halte busway Kalideres. Sampai dihalte gue ngeliat Vita yang lagi asyik main handphone. Tubuhnya yang bohay ditutupi oleh T-Shirt item. Jeans dan sepatu unyu berwarna aqua. Gue dan Vita menuju kasir. Membeli tiket. Masuk kedalam. Kemudian kita menuju sejenak di antrean sambil mencairkan suasana.
“temen-temen lo kemana?” Tanya gue, datar. Sebelumnya Vita memang mengajak beberapa temannya untuk pergi bersama kami.
“tau tuh temen gue. Pada tumbang.” Gerutu Vita.
“yaudah, yang penting kan gue sekarang bisa.”
“iya ya.. hehehe”
“emang temen lo kenapa pada nggak bisa ikut?”
“ada yang pergi mendadak, terus ada yang nggak bisa nggak tau karena apa dan ada yang bilang lagi nggak punya doku” Vita emang beruntung pergi sama gue. Setidaknya dia bisa ketemu sama idolanya yang membawakan acara The Dandees. Tapi malu karena jalan sama gorilla berbadan Angelina Jolie ini.
***
Kita (baca: gue dan Vita) mulai memasuki bus (baca: Trans Jakarta). Sepanjang perjalanan kita banyak cerita banyak demi menghilangkan rasa jenuh. Dari yang namanya nanti Vita lulus SMK mau lanjut dimana, kemudian, rep-repannya sampai soal gue yang sempat mengalami kegalauan akibat sesuatu (baca: Perasaan gue sendiri).Gue mulai angkat bicara soal kelulusan Vita nanti,
“lo mau lanjut kemana Vit setelah lulus nanti?” Tanya gue, basa-basi.
“nggak tau nih neng, kalau emang dapet beasiswa buat kuliah ya mungkin gue kuliah dulu. Tapi kalau belum bisa ya mungkin kerja dulu.”
“emang mau kuliah dimana?”“ga tau nih. Kayaknya di Serang gitu, neng.”
“lho? Kok jauh???” gue heran, ngapain sih kuliah pakai jauh-jauh ke Serang segala? Kayak di Jakarta nggak ada kampus aja.
“iya, soalnya deket rumah.” Ya, mungkin maksudnya dia rumah dia yang ada di Serang kali ya.
“oooooooo……..” balas gue, singkat.
“kalau lo neng?”Hening.
Gue bingung mau jawab apa.
“gatau. Maunya sih negeri” kata gue sambil menyapu semua pandangan yang ada didepan gue.
“tapi kayaknya susah deh, otak gue kan nggak pinter-pinter amat.” Lanjut gue, lesu.
“iya neng, gue juga tadinya mau negeri. Tapi nggak tau juga. kalo gue sih mau cari yang ada Broadcast-nya.” Jelas Vita lebih memilih Broadcast. Vita kan basic nya Broadcast. Nggak mungkin Vita pilih akuntansi. Nggak nyambung banget Broadcast ke akuntansi. Dari yang namanya menyiarkan kolor.
Tiba-tiba ngitungin jumlah kolor untuk di promosikan. Vita melanjutkan,“dan bisa dapet beasiswa.”Lagi-lagi beasiswa. Gue selalu berharap bisa dapet beasiswa. Vita juga pingin bisa dapet beasiswa. Tapi apa bisa dapet beasiswa dengan se ala kadarnya otak ini?Selesai membicaranya masa depan kita masing-masing. Yang masih sedikit suram. Sesuram wajah temen gue yang satu ini. Kita beralih ke bagian Vita rep-repan. Gue yang masih penasaran sama cerita dari Vita soal rep-repannya waktu malam jumat.Malam jumat itu Vita tidur jam 23.15 menit. Dia sengaja tidak mendengar Mystery Night. Salah satu program acara di Radio MS Tri FM yang sudah menjadi rutinitas dia maupun gue. Saat malam jumat telah tiba. Dan kami biasanya saling info melalui SMS. Kalau ada sesuatu yang janggal. Seperti misalkan saat ada suara kuntilanak cekikikan. Gue malah tiba-tiba pingin boker.Mari kita lanjutkan sodara dan sodari.Masih di hari yang sama. Dan masih dimalam yang sama. Jadi begini sodara-sodara dan sodari-sodari-sodari sekalian. Saya akan menceritakan kronologi yang dialami Vita kala itu. Begini ceritanya, malam itu Vita hendak tidur karena esoknya ia harus sekolah dan sedang berlangsungnya ujian sekolah. Tapi sebelum ia tertidur. Dari pagi hingga malam ia merasakan perasaan yang tidak menyenangkan. Ia gelisah. Gundah. Dan gulana. Tetapi ia tetap berusaha memejamkan matanya walaupun ia sedang konflik dengan perasaan yang mengganggu akal sehatnya. Sebentar, saya mau berdecak. Lanjut, sodara sodari sekalian. Vita pun memutuskan keputusan bahwa ia tetap harus tertidur. Awal ia tertidur semua baik-baik saja. Namun lama kelamaan ia mendengar ada yang berbisik sangat kencang dikedua telinganya. Suara itu memekik. Suara bisik yang mengganggu pikirannya. Vita mencoba baca surat-surat juz amma. Pokoknya se hapalnya Vita ajalah. Namun, suara itu semakin menjadi-jadi. Vita semakin gelisah. Ketika hendak menyadarkan dirinya yang sudah terlanjur memejamkan mata. Itu sama sekali tidak bisa dilakukannya. Mata Vita tidak bisa melek. Mungkin biar melek dikasih cabe di matanya? Sekujur tubuhnya kaku. Mulut ia sulit untuk di buka. Mungkin jika menggunakan linggis bisa? Sampai akhirnya dia memanggil kata ‘Ayah’ dan semua kembali normal. Vita terbangun dan ia banyak ber-Istigfar. Saat Vita tersadar, saat itu pula suara cekikikan dari kuntilanak terdengar dari depan jendela kamarnya. Sungguh cerita yang mengerikan.Besoknya gue mengalami yang Vita alami semalam. Jangan-jangan. Penunggu rumah Vita transmigrasi ke rumah gue. Wow! Masih setengah nggak percaya. Tapi percayain aja deh. Udah kejadian juga. Dan memang persis dengan yang Vita alami. Tetapi tidak se over Vita kok. AhahahaHAHAHAHAHAHAHAHA. Hening.Begini sodara dan sodari sekalian. Setelah saya melakukan wawancara dengan Vita yang berbadan subur itu. Arti dari kata Rep-repan (kata Vita bukan kata gue. Ingat! Kata Vita. Dan Vita juga taunya dari Jae, teman gue yang eksotik itu) ialah semacam setan yang menahan tubuh kita.Ada yang mau berpikir sejenak dengan arti kata-kata Rep-repan tersebut? Sepertinya tidak perlu ya.
***
Selesai dari cerita Vita tentang Rep-repan. Yang menurut gue bingung untuk dijelaskan. Dan karena kita juga belum Tanya-tanya ke Thabib Muhammad Dwi. Jadi gue dan Vita lebih baik memendam perasaan kita masing-masing.Gue jadi pingin cerita sama Vita soal kejadian yang gue alami dengan Radit. Kegalauan gue menyeruak dan menyebar di seluruh pikiran gue saat itu. Perlahan gue coba menceritakan problem yang sedang gue alami kemarin. Vita pun mendengarkan dengan seksama. Kami berdua berbagi. Kami berdua saling merasakan. Perasaan satu sama lain. Perasaan gue yang kenapa gue takut kehilangan dia. Takut Radit pergi. Dan nggak mau Radit jauh.————————————————————————————————————————————————————————Halte Grogol Bus TransJakarta.Well, gue dan Vita segera transit di Halte Grogol. Akses menuju Gandaria City ialah dengan cara menaiki bus way jurusan Lebak Bulus. Jam menunjukan satu siang. Masih ada dua jam lagi sebelum tiket flash mop acara Ultah Prambors Radio dibuka. Vita menawarkan gue permen rasa leci dan enak banget. Sayangnya bentuknya kecil banget. Jadi gue sedikit kurang puas makan permennya. Apa lagi Vita hanya bawa tiga buah permen seperti itu. Sebenarnya Vita bawa permen banyak. Ada rasa jeruk, apel, stroberi dan leci. Dan yang paling enak hanya leci. Tapi kenapa hanya bawa tiga?? Kenapa?Bus Trans Jakarta melaju dengan pelan dan tentram. Aman dan damai. Serta sentosa. Cukup.Gue mulai memperhatikan keadaan sekeliling gue. Dari mbak-mbak yang didekat pintu. Ya, kasarnya kenek lah. Tapi kan mbak-mbak ini ga bilang,“yooo lebak bulus… lebak bulus…” sambil melambai-lambaikan salah satuh tangannya.Lalu jika ada yang ingin naik, ia mengetuk-ketuk kaca bus dengan uang koin, dan dia pasti bilang, “yooo naik yooo naik…”Sekali lagi dia berkata, “yoooo lebakk bulus… lebak bulus……..”. Tetapi mbak-mbak ini terlihat lebih tegas dan ramah serta berbudi baik. Ehem. Cieeee…… (?)
***
Dan gue mulai terpaku dengan satu titik. Ada segerombolan anak muda pakai baju berwarna kuning-kuning. Awalnya gue mengabaikan semua itu. Gue kurang menyadari kalau mereka pakai warna kuning semua.
Tapi entah kenapa itu buat gue kepikiran. Saking penasarannya gue Tanya ke Vita.
“vit, lo ngerasa ada yang aneh nggak?” bisik gue, pelan-pelan.
“enggak. Emang kenapa?” balas Vita, heran.
“iya Vit. Gini ya, itu ada segerombolan orang pakai baju warna kuning semua. Mereka mau ke acara flash mob juga kali.”
“enggak…”
“enggak apa?”
“enggak tau.”
Hening.
“vit…” bisik gue dengan penuh kegelisahan,
“apa?”
“kayaknya mereka mau ke ultah Prambors juga deh.” Gue melihat sekeliling dengan teliti.
“lo yakin kita nggak salah kostum?” lanjut gue, penasaran.
“ya ampun neng. Enggak. Orang gue denger di Radio waktu acara The Dandees cuma cukup dateng aja. Terus follow twitternya Radio Prambors. Dan ikut flash mob deh. Nggak ada tuh suruh pakai baju begini atau begitu apalagi pakai baju warna kuning.” Jelas, Vita.
“lo yakin?”
“yakin.”
“bener?”
“iya neng…”
Tapi kenapa gue masih penasaran? Kalau bener salah kostum gimana??? Kalau misalkan bener semua yang menghadiri ultah Prambors pakai baju warna kuning gimana?? Gue pasti malu banget. MAU DITAROH DIMANA MUKA GUE??? DI PANTAT LANDAK?????!!!
***
Bus way yang kami naiki semakin dekat dengan Gandaria City. Segerombolan kuning itu turun di Halte Kebayoran Lama. Vita juga mengajak gue turun di Halte Kebayoran Lama. Tapi gue malah memilih turun di Halte Kebayoran Lama 2. Vita pun menuruti ajakan sesat gue. Akhirnya karena salah halte. Kita berdua turun di Halte Kebayoran Lama 2. Untuk balik lagi ke Halte Kebayoran Lama.
“tuh kan bener! Kita tuh seharusnya turun di Halte Kebayoran Lama.”sewot Vita.
“ya, maaf.” Sahut gue, menyesal.
“lu sih ngeyel sama gue. Tante gue tuh pernah bilang ke gue.”
“iya, maaf…”Setelah turun di Halte Kebayoran Lama. Kita berdua naik angkot berwarna biru kearah Gandaria City. Kalo ditempat gue angkotnya mirip M13. Angkot yang biasa gue pakai sewaktu masih SMP.Beberapa menit kemudian. Kita sampai di Gandaria City. Satu kata yang bisa gue utarakan. adalah, “Subhanallah”.
Mata gue terbelalak.
Nggak percaya.
Dan speechless.
“Vit, gede banget mall nya.” Bisik gue, norak.
“iya neng. Gede banget ya.” Vita membalasnya sambil melihat sekeliling dengan seksama.
“Vit, abis ini kita kemana nih?” Tanya gue, bingung.
“ahahaha…” Vita tertawa kecil. “lo baru pertama kali kesini ya?” sial. Vita ngejek gue.
“i-ya.” Balas gue, bersuara kecil.
“lewat sini neng.” Vita mengajak gue ke jalan yang benar.
“emang lo udah pernah kesini vit?” Tanya gue pelan
“belum juga. baru sekarang.” Balasnya. HEEEEEEEEEEEEEEEE??????????

Lama berjalan akhirnya gue menemukan sesuatu. Sesuatu yang gue pertanyakan.GUE MENEMUKAN KEJANGGALAN.GUE MENEMUKAN PERTANYAAN BESAR.DAN GUE MENEMUKAN SEGEROMBOLAN KUNING.Gue menatap Vita dengan tajam.
Vita menatap gue dengan heran.
“vit.” Bisik gue, lagi.
“apa?”
“kok ada orang yang di bus way itu lagi? Lo yakin kita gak salah kostum??? Mereka baju warna kuning lho? Nah kita???” tatapan gue langsung tertuju ke segerombolan kuning itu.
Masih gak percaya. Bener nggak sih?? Ini bener nggak sih??? Yakin nih??
“iya yah??”
HAH??? IYA YAH APA??? IYA YAH KITA SALAH??? SALAH KOSTUM GITU MAKSUD LOHHH?? MAKSUD LOHHH??????!!!!
“terus Vit?” gue menelan ludah.
“udah tenang aja neng.. gak salah kostum kok. Gue yakin.” Vita masih berusaha menenangkan jiwa gue yang sedikit terguncang.
“he-eh.” Bibir gue kelu.
Dan gak mau banyak bicara lagi. Ini memalukan.GIMANA KALAU TERNYATA SALAH KOSTUM? APA GUE HARUS TAROH MUKA GUE DI PANTAT LANDAK???!!!
***
Gue dan Vita berjalan menuju tempat yang di tuju. Kita berdua aja bingung mau ngapain disana. Jam menunjukan pukul tiga kurang lima belas menit. Masih ada waktu buat ngobrol lima belas menit sebelum meja pendaftaran flash mop di buka. Sejauh mata memandang. Memang semua orang memakai baju berwarna kuning. Rasanya aneh lho. Berada di tengah-tengah lautan orang memakai baju warna kuning. Tapi gue dan Vita pun hanya berusaha menikmati walaupun, gue sendiri, kurang enjoy.Mengingat Shifa mau datang juga ke acara ini. Akhirnya gue SMS Shifa.
Gue: Lagi dimans Shif?
Shifa: Iya ini lagi dijalan ta.
Gue: Oh, emang lo sama siapa?
Shifa: Sama anak CG.
Gue: Oh, yaudah nanti kabarin gue lagi ya…
Shifa: Oke tita.
—————————————————————————————————————————Sambil menunggu Shifa datang. Gue coba telephone Radit. Karena hubungan kita sudah agak membaik. Jadi gue dan Radit saling kasih kabar.
“halo.. Asslammualaikum”
sapa gue.
“Waalaikumusalam. Kamu udah sampai?” Tanya Radit.
Seneng ya bisa dengar suara dia.
“udah kok. Hehe…” sahut gue, senang.
“kamu lagi apa? kamu udah makan?” Tanya Radit.
“hmm… belum.”
“kok belum?”
“hmm iya ntar aja..” masih dengan suara imut beud.
“jangan lupa makan ya.” ihhh so sweet yaaa dia khawatir sama gue.
“iya.”
Hening.
“dit?”
“iya?”
“kamu lagi apa?”
“lagi tiduran aja.”
“kamu udah makan?”
“udah kok.”
“oooohh…”
Hening.
“fit?”
“iya?”
“kamu udah dapet gratisan telephone?”
“udah.”
Hening.
“dit?”
“iya?”
“aku tutup dulu ya. Nanti aku kabarin kamu lagi.”
“oh. Ok. Kamu hati-hati ya…”
“Iya.. bye… Assalammualaikum.”
“ Walaikumusalam.” KLIK.
Terlalu banyak keheningan antara gue dan Radit. Tapi setidaknya gue seneng karena Radit memperhatikan gue. Udah lama nggak merasakan seperti ini. Di perhatiin seperti ini emang menyenangkan. Apa lagi kalau yang perhatiin pacar. Sayangnya, gue dan Radit hanya teman. Dan kita juga belum pernah kopi darat (baca: ketemuan).
***
Menunggu itu membosankan tau. Udah jam tiga tapi Vita tetep gak mau di ajak masuk. Tempatnya sih out door. So far so good. That’s not bad. And I think, everybody happy life in here. Tapi Vita punya sejuta alasannya dan salah satunya adalah malu. Dari ini lah. Sampai itu lah. Terlalu banyak alasan.
“masuk yuk Vit.” Ajak gue, geregetan.
“ntar aja neng.”
“kok ntar? Sekarang aja.”
“ntar aja.” Balasnya, santai.
“yaaaaah Vita.” Kata gue, kecewa.
“kenapa?” pertanyaan orang lugu.
“BETE TAU!”
“yaudah neng, sabar yaa..”
“rasanya pingin nari striptise deh disini.” Celetuk gue. Sambil kelsat klesot di dinding mall.
“HAH???” Vita memperhatikan gue dengak jijik.
“iya! ABIS ITU NARI ULAR DEH!” telapak tangan kanan gue bertemu dengan telapak tangan kiri gue. Kemudian membentuk farmasi pocong dan menggoyang-goyangkan pinggul. Kekanan. Kekiri. Kekanan. Dan kekiri lagi.Vita melihat gue dengan penuh kegelian. Mungkin yang dipikirkan dia. Titisan Pretty Asmara mau nari striptise dan ular disini?? SUUMPEH LOO???
***
Masih coba menghubungi Shifa. Sampai akhirnya gue dan Vita masuk untuk mendaftarkan diri ikut flash mob. Awalnya Vita bimbang. Karena acara flash mob jam lima sore. Sedangkan Vita harus cabut jam empat sore. Waktu itu sudah jam setengah empat sore. Jadinya, Vita dilema abis. Dan akhirnya Vita memutuskan. Untuk tetep ikut flash mob sampai selesai.Jam menunjukan pukul lima sore. Kala itu gue sudah berada didepan panggung. Satu hal yang harus lo ketahui. Ketika lo hendak pergi bersama temen lo keacara yang lo sebenarnya gak tau seperti apa. Sebaiknya lo tanyakan ke temen yang ngajak lo jalan. Coba lo tanyakan secara detail. Dari A sampai Z. Dan jangan pernah melakukan hal bodoh seperti yang gue lakukan.Ketika Vita ngajak gue pergi. Gue tanpa pikir panjang, deal. Lalu, ketika acara di mulai.
MC bilang, “Prambors Radio”.
Semua orang berkata, “Hits Terbaik Dunia.”
Tapi gue punya karya sendiri, ialah, “bla, ca kabla”.
Beruntunglah setelah gue sadar sebelum karya gue ketauan. Kemudian gue akan segera dibawa oleh pihak berwajib. Karena telah merusak nama baik sebuah stasiun Radio di Jakarta. Gue langsung buru-buru Tanya ke Vita.
“Vit, pada ngomong apa sih?” Tanya gue, penasaran.
“Hits Terbaik Dunia.” Jawab Vita, santai.
“ooooh” dan gue baru sadar.
Padahal ada spanduk tulisannya gede-gede, “Hits Terbaik Dunia”. Tapi gue gak sadar kalau itu tag line nya. Gue menghela nafas lega. Dan menyadari ke bodohan gue saat itu.Kemudian gue liat perform mantan pacar gue, Gamal. Tetep masih usaha. Lalu melihat perform Geisha, selanjutnya band favorite gue, Nidji.Gue akhirnya bertemu dengan Shifa saat magrib menjelang. Flash mop bikin gue Setelah itu Vita ketemu idolanya mas-mas yang bawain acara The Dandees. Dan terakhir gue ngeliat perform nya Vierra. Satu kata yang pingin gue sampaikan saat melihat Kevin Aprilio adalah, “mas, poninya gak ngerusak mata? Kayaknya poni mas Kevin terlalu menibani mata mas Kevin deh. Tapi mas tetep kece kok (modus, karena takut dikeroyok fans Kevin Aprilio)”
***
Pukul delapan malam. Gue dan Vita pulang rumah. Harus di sadari kalau dari pagi hingga malam menjelang gue belum makan nasi sama sekali. Alhasil gue lapar sekali. Dan dengan setengah hati gue meninggalkan tempat tersebut. Karena gue juga gak mau egois. Harus disadari juga. Vita sedang school exam. Jadi, tetap harus mengutamakan Vita dari pada pribadi sendiri.Alasan gue belum mau pulang adalah karena gue belum ketemu RAN. Tapi mungkin memang belum berjodoh aja. Lain waktu gue berusaha untuk ketemu dengan idola gue yang satu itu. Idola yang udah gue sukai karyanya dari tahun 2007.Dengan penuh lelah dan letih. Gue duduk anteng di kursi bus trans Jakarta yang mengantarkan gue menuju rumah. Kangen dan pingin sedikit sharing bersama temen-temen di facebook. Lalu, gue buka facebook gue. Ditemani lagu dari mas Adithia Sofyan, In To You. Gue sedikit shock dan kecewa.Pasalnya, gue melihat di dinding Era. Kalau Radit mengirim, “I Love You :D”. Dan beberapa puisi cinta lainnya.Gue menghela nafas panjang. Berusaha menikmati perasaan itu. Berusaha menyadari. Berusaha ikhlas atas semuanya. Gue kecewa. Gue gak bisa menutupi itu. Tapi gue harus terima. Ada perasaan sedih pas liat itu. Kenapa ya rasanya sedih gini?? Radit kan bukan siapa-siapa gue. Buat apa gue kecewa? Buat apa gue sedih?? Buat siapa???
***
Pelajaran yang gue alami hari itu adalah:
Pertama.
Jangan langsung percaya sama ajakan temen lo. Karena sebagai manusia lugu dan polos lo harus sadar. Kalau lo gak update acara begituan.
Kedua.
Jika lo setuju dengan ajakan temen lo. Sebagai manusia lugu dan polos. Lo harus banyak cari tahu acara apa yang akan lo hadiri nanti bersama temen lo itu. Jangan sampai lo salah kostum sampai-sampai lo gak tau jenis acara apa yang akan lo hadiri nanti.
Ketiga.
Jangan update status di jejaring social lo. Karena itu akan membuat lo terlihat lebih norak.
Keempat.
Siapkan mental lo. Ketika lo merasa kecewa. Karena lo gak ketemu idola lo.
Kelima.
Jangan buka jejaring situs social buat update status apalagi yang sekiranya ada hubungannya dengan gebetan lo. Karena kalau lo lihat ‘sesuatu’ lo akan kecewa.

Pelajaran itu penting bagi gue. Dan yang gak kalah penting dari
semua nya adalah GUE BUKAN SALAH KOSTUM karena pakai kemeja biru dan Vita pakai T-Shirt hitam. Tapi GUE SALAH PERASAAN karena gue udah suka sama orang yang salah. Dan orang itu justru menyukai sahabat gue sendiri. Seharusnya gue menyadari itu. Dan menyadarinya dari kemarin. Bukan sekarang.
***
Bukan salah kostum tapi salah perasaan.

PHP –Pemberi Harapan Palsu-

Untuk sebagian orang pasti sudah mengerti dan paham tentang PHP. Tapi akan beda bagi mereka yang belum tau sama sekali apa PHP itu? Contoh simple seperti ini. Ketika lo sudah sayang sama seseorang dengan sepenuh hati dan tulus. Ternyata seseorang yang lo sayangi itu hanya memberikan harapan-harapan palsu sama lo. Bahkan lo dan doi udah panggil pakai sayang-sayangan. Bebeb-bebeb-an. Semacam itu lah. Tapi beruntung saja tidak memanggil dengan babi-babi an yaaa… Edisi derita lo adalah kalau ternyata doi malah suka sama orang lain. Atau justru tanpa lo ketahui. Doi udah jadian sama orang lain. Ini adalah penelitian gue tentang PHP. Setuju atau enggak itu terserah di lo. Pastinya, akan sakit ya kalo di PHP in.
By the way, any way, busway. Lo pernah PHP in orang??! Atau malah elo yang di PHP in? Sepertinya gue pernah mengalami di PHP in sama orang. Itu nyesek banget lhooo… tapi gue sadar. Gue juga yang salah. Kenapa ngasih perasaan gue sama orang yang udah punya pacar. Bener-bener malu-maluin.
Sekarang, gue mau menceritakan kisah kakak sepupu gue, Mbak Unny. Mbak Unny dan gue selisih dua tahun. Kita berdua dari kecil memang sudah sangat dekat. Segala sesuatunya sudah kita bagi bersama. Dari makanan, minuman, odol, sikat gigi, sabun mandi, sabun colek, shampoo, deodoran, ember, air, bahkan tempat tidur. Kita saling berbagi. Tapi terkadang pelit untuk berbagi. Rasa-rasanya sih doi kayak di PHP in sama mantannya, Mas Cukin. Mas Cukin itu dulu pacarnya Mbak Unny. Tapi sekarang mereka udah mantan dan putusnya pun masih ada keganjalan di hati mereka masing-masing.
***
Kesan pertama gue denger cerita dari Mas Cukin saat curhat ke gue sih begitu. Tapi gue juga ga mau komentar-komentar yang ngawur. Lagi pula mereka yang lebih mengerti dari pada gue. Tentang pemantauan gue selama ini. Gue bagaikan detektif conan. Yang sedang memecahkan kasus antara mas cukin dan mbak unny. Mereka berdua saling curhat ke gue. Seperti kantong plastik ya gue? Orang bisa mempercayakan gue untuk meluapkan isi hatinya. Dan gue siap menyimpannya. Jadi terharu.
Ceritanya gini. Waktu itu gue sedang jenuh. Seperti biasa. Di bagian “Efek Jomblo” gue menulis, kalo gue “Rajin SMS Ga Jelas”. Nah, itu lah yang dilakukan gue demi menghilangkan rasa jenuh gue. Gue sms ke semua nomor yang ada contact hp gue. Tak terkecuali Mas Cukin dan Mbak Unny. Mari kita mulai curhat-curhatan berikut ini…
Gue  : Ampas teh yang manis…
Mbak Unny  : Ada gitu ampas teh manis -,- Ta, aku udah putus :D
(melihat sms doi yang begini sontak gue terkejut. Gue heran. Kenapa putus dia malah kasih emotion ‘ketawa’. Yang pernah gue rasain sebelumnya. Putus itu menyedihkan. Apalagi kalo kita udah bener-bener sayang sama doi. Kalo gue jadi mbak unny. Mungkin gue akan sms gini, ‘Ta aku putus L’ sepertinya itu lebih nyambung. Kemudian gue mencoba bunuh diri tapi digagalkan oleh Superman)
Gue  : L Kok bisa? L (gue ikutan sedih)
Mbak Unny  : Dia pengkhianat :D Pembohong :D
(seperti di sinema laga-laga. “dasar kamu!!! Pembohong!! Pengkhianat!! Pergi kamu dari Istana ini!! Jangan pernah datang kesini lagi dan jangan harap aku akan menerimamu lagi!!” dengan tampang gahar. Tiba-tiba burung elangnya dateng dan ngejemput orang yang baru saja diusir itu.)
Gue  : haaaaaaahhhhhhhh???????? (ekspresi kaget. Mata melotot. Kamera di zoom kebagian face.)
Gue  : dia pembohong dan pengkhianat gimana?? (gue ga connect)
Mbak Unny  : dia itu ‘katanya’ baru suka sama aku. Padahal udah ada yang dia sayang dari lima tahun yang lalu. Nyebelin kan?? Ga sangka aku. Hatinya busuk banget.
(gue menghela nafas. Masih bingung dengan maksudnya mbak unny. Doi bilang “hatinya busuk banget”. Kalo hatinya busuk banget. Kenapa ga dibalikin aja? Minta dituker sama yang baru. Kan ga enak makan yang busuk. Hiiiii geliiiiii….)
Gue  : ish, parah abis. Dia ‘fine’ ga waktu diputusin mbak? Kok mbak tau kalo ada yang disayang dia sebelumnya? Gimana jadinya kalo misalkan dia bisa lupain orang yang dia sayang sebelumnya, setelah dia kenal mbak? Terus gimana perasaan mbak setelah kejadian ini terjadi? Adakah tindakan-tindakan yang akan mbak lakukan guna menetralisir keadaan yang telah terjadi?
(kali ini gue sangat amat mirip wartawan lagi wawancara Lurah mengenai kasus hansip yang membuat aksi video lip sync mesum)
Mbak Unny  : dia sih baik-baik aja waktu mutusin. Tapi bukannya sedih. Aku malah males kalo dibohongin gitu, nyesel aku ga denger kata-kata temenku dari dulu.
(wow! Amazing. Mbak Unny ternyata cewek strong. Doi ternyata ga sedih. Tapi gue justru kasian. Doi sekarang jadi pemalas setelah di bohongi. Mungkin lagu yang tepat buat Mbak Unny itu Bohong. Dari Syahrini. Gini liriknya. “kau bohong… kau bohong…. Lagi-lagi. Dan aku percaya. Sekarang… sekarang bohong lagi. Kamu… kamu… teganyaaa.. aaaah… aaaah…” nyanyi lagu ini dibawah shower sambil nari ular. Makin kereeeeeeennnnnn….. Coba lo perhatikan kata-kata doi kalo doi nyesel ga denger kata temen-temennya dari dulu. Doi ga denger temen-temennya karena doi lebih memilih pakai ear phone. Jadinya, saat temen-temennya cerita. Doi ga denger sama sekali. )
Gue  : emang kata temen-temen mbak apa?
Mbak Unny  : Dulu temen-temenku bilang dia ga baik.
(hebat!! Ternyata temen-temen mbak unny peramal. Kalo gitu. Ramal dooongg kapan gue punya pacar????)
Gue  : Ga baiknya kenapa???
***
Itu sms terakhir yang gue kirim ke mbak unny. Mbak unny malah ga bales sama sekali. Sekarang gantian deh mantannya, Mas Cukin. Simak teman-teman…
Mas Cukin  : Maksudnya dek??
(doi masih ngebahas soal ‘ampas teh yang manis’. Kasian. Doi ga update)
Gue  : Gpp mas (udah males)
Mas Cukin  : Kenapa dek? Mesti gara-gara mas sama mbak kurnia(unny) putus kan?
(polos. Doi belum tau kalo sebenarnya gue udah diceritain. Tapi gue berpura-pura, “hahahahaha –ketawa jahat- lihat saja pembalasanku!!!” peran antagonis)
Gue  : Hah?? Aku justru malah belum tau kalo mbakku putus. Emang putus ya?
(acting gue sukses. Dengan kelugu-luguan gue dan keunyu-unyuan gue)
Mas Cukin  : Kirain mbak mu udah bilang, dek. Iya putus, dek.
(doi terjebak.. gue semakin meraja lela…)
Gue  : why? Masnya diputusin/ mutusin nih, mas?
Mas Cukin  : mas yang mutusin, dek. Mas belum ‘sreg’ aja sama mbakmu? Terus juga ada hal yang lain juga,dek.
(jahat abis. Tega abis. Parah abis. Ga tau kenapa ya. Asal denger cowok mutusin cewek. Yang terlintas di benak gue saat itu adalah, “Tega bangeetttt” sambil meremas cucian baju)
Gue  : hal yang lain itu apa mas?
(pura-pura lugu)
Mas Cukin  : ya kayak kuliah, sama sebelum mbak kurnia (unny) ‘dateng’ mas udah suka sama orang lain. Mbak kurnia juga masih suka sama mantannya atau siapa mas ga tau.
(no comment)
Gue  : kalo soal kuliah kayak gimana?
Mas Cukin  : mas, semester 2 keatas udah sibuk-sibuknya praktikum, dek. Mas juga mau cari kerja partime.
(alasan abis.)
Gue  : kalo suka sama orang lain kenapa mas mau jadian sama mbak unny?
Mas Cukin  : ya, mas emang suka juga sama mbak unny, dek. Tapi kalo sayang belum.
(frontal abis. Rakus abis. PHP abisssss)
Gue  : kasian mbak unny, ck.
(dengan tampang muka melas dan penuh iba.)
Mas Cukin  : kasian kenapa, dek?
Gue  : kayak di PHP in.
Mas Cukin  : ya, ga maksud gitu juga, dek L
(NAH, INI SALAH SATU CONTOH NYAAAAA…..)
Gue  : tapi kalo denger ceritanya kayak di PHP in, mas. Tapi yaudahlah. Sudah terjadi juga. sama-sama sudah dewasa. Semoga sama-sama bahagia. Walaupun udah nemuin jalannya masing-masing.
(ketika gue sms ini. Mungkin gue sedang setengah sadar. Ya, terdengar bijak banget kalo dipikir-pikir. Gue menarik nafas dan menghembuskannya. Dalam hati, “sepertinya ada yang salah dalam diri gue pas ngomong gini.”)
Mas Cukin  : wah kayak adek udah berpengalaman aja. :O
Gue  : berpengalaman dalam hal?
Mas Cukin  : hal percintaan dek. :D
(Ya, mungkin gue berpengalaman dalam hal percintaan. Sehingga gue sudah sering disakiti. Dari seringnya gue disakiti itulah. Timbul pemikiran yang memang seharusnya dewasa. Ah! Ga juga. gue belum dewasa! Gue masih kanak-kanak. Biarin…)
***
Mungkin mbak unny butuh yang namanya program acara H2C (Harap-harap cemas). Sebenarnya program acara ini cukup ngebantu doi dalam soal pengintainan doi ke mas cukin. Sebelum akhirnya doi putus sama mas cukin. Jadi rencananya, doi bakal mengintai mas cukin dalam beberapa hari. Dengan cara ngikutin kegiatan mas cukin. Dari mas cukin bangun tidur, sampai kembali tidur lagi. Semua mbak unny lakukan demi melakukan penelitian untuk kebenaran. Endingnya, ketika putus, mbak unny ga diputusin. Tapi mbak unny yang mutusin. Horeeeee!!!! Sebentar! Sepertinya gue yang agak berlebihan.
Lanjut. Gue pun mengakhiri sms gue dengan mas cukin. Mengalihkan kegiatan sms gue dengan mbak unny. Tanpa pikir panjang gue mulai melakukan…
Gue  : Mbak unny diputusin ya?
Mbak Unny  : Iya.. Gimana ta? Kamu coba deh Tanya-tanya sama dia kenapa putus, tapi jangan bilang aku yang nyuruh..
(wah kayaknya masih ada perhatian nih…)
Gue  : katanya dia. Dia putusin mbak karena emang sebelumnya sayang sama yang lain. Bener-bener kayak di PHP in tau, mbak…
Mbak Unny  : Iya dia juga bilang gitu ke aku, dia itu sengaja ya nyakitin aku. Kalo udah ada yang sayang kenapa kasih harapan ke aku coba? Padahal dia sendiri yang janji-janji bakal setia. Udah diemin aja ta, males aku sama dia, masih untung gak jadi digampar sama temenku kemarin L
(kacian.. beud. 4Ku J4d! CedIhh.. c3Dih BeuuDD.. j4D!  !nGeeT M4ca L4Lu 4jaH)
Gue  : jadi emang sebenarnya di PHP in , mbak..
(nah lho? Gue jadi ngompor-ngomporin)
Mbak Unny  : iya sumpah aku benci banget ta sama dia, tak bela-belain kita deket udah dua bulan sebelum ujian, sampe jadian, aku belain aku sakit hati karena mantannya. Sialan emang dia, tapi biarin aja nanti juga dibales lebih sakit..
(apa kesimpulan lo dari sms di atas?)
Gue  : emang sakit hati karena mantannya? Gimana maksudnya?
(yup, penyakit ga connect gue kumat lagi.)
Mbak Unny  : dia itu pacaran sama mantannya udah 5 tahun, terus dia ditinggalin sama mantannya coz mantannya lebih memilih orang yang baru ceweknya kenal.
(apa yusuf kayak gini juga?? dia mutusin gue karena dia lebih memilih orang yang baru dia kenal?)
Gue  : oh iya, kata dia. Mbak unny masih suka sama mantan mbak? Emang iya?
Mbak Unny  : enggak sih,dia aja yang berpikir negative, aku itu baik sama semua mantanku, asal dia ga ngebohongin aku. Aku itu udah sepenuhnya percaya dan sayang sama dia.. Dia yang sangat bodoh nggak nyadarin itu semua, sampe akhirnya sayangku yang tulus berubah jadi benci yang sangat-sangat dalam.
(hmm… gue sama yusuf gitu ga ya???)
Gue  : tapi dia juga bilang karena doi mau focus kuliah kok
Mbak Unny  : alah, focus kuliah apanya, dia bilang pacar itu buat semangat. Aku bencinya buat apa aku dikenalin orang tuanya segala kalo dia ga serius. Kan tambah sakit, ta..
(aku jugaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa *pasang muka unyu*)
Gue  : sadis abis
(kehabisan kata-kata)
Mbak Unny  : haha biarin aja. Suatu saat ada balesnya. Liat aja J
(gue pun membalasnyanya dengan ketawa jahat, HKAHKAHKAHKAHKA)
Gue  : nyesek abis. Mas cukin kok tega ya? Mbak dendam sama dia?
Mbak Unny  : Aku ga dendam ta, malah udah ga peduli sama diaJ tapi temen-temenku malah yang pada ga terima apa lagi mantanku yang sekarang jadi sahabatku. Dia malah mau cari cukin -,- biarin aja aku sih.. Hidupku akan lebih indah dengan pelajaran ini J
(great!!)
Gue  : asik abis.
***
Ya, kalo tanpa adanya sakit hati kita ga akan bisa berpikir. Tanpa sakit hati, ga bakal bisa buat kita lebih dewasa lagi. Seperti yang dialami gue dengan Yusuf. Tanpa adanya rasanya sakit hati karena Yusuf udah putusin gue. Mungkin gue ga akan berpikir dewasa sekarang. Ga akan bisa menerima ikhlas. Dan ga akan sadar kalo masih ada banyak pelajaran indah selain di cintai. Yaitu disakiti. Semoga mbak unny bisa dapat yang lebih dari mas cukin. Dan mas cukin bisa mendapatkan kebahagiaan tanpa harus PHP in cewek yang benar-benar sayang sama dia. Amin.
Jadi inget lagi Ari-Di Cintai Untuk Disakiti. Dan jadi inget juga sama dia (Yusuf). Andai dia tau apa yang gue rasakan saat itu. Saat dia memutuskan hubungannya dengan gue. Disaat gue benar-benar ingin bersamanya. Gue memang bukan yang terbaik untuk dia. Bukan yang sempurna untuknya. Tapi dia pernah jadi yang terbaik dan sempurna di hidup gue. “ku tak ingin ratapanmu. Dan ku takkan lagi menyentuhmu. Pergi dan jangan kembali. Ku ingin sendiri. Perjalanan panjang cinta kita. Sekejap kau hancur selamanya. Inikah takdir untuku. Di cintai tuk disakiti”. Sepenggal lirik dari lagu Ari. Gue harus sudah bisa melupakan semuanya. Bukan lupakan. Tapi dikenang. Dan gue ga akan bisa kembali untuknya. Semoga dia bahagia tanpa gue. Selamanya…

Cerpen (Bahasa Tubuhku)

Bahasa Tubuhku
Reni datang dengan langkah tergopoh-gopoh menuju Ola dan Esti yang sedang asyik menyeruput es kopyor didepan sekolah mereka. Kala itu siang terasa sangat terik. Apalagi hal yang sering dilakukan oleh Ola dan Esti selalu menyempatkan diri untuk nongkrong didepan sekolah. Ditambah lagi hari itu pulangnya dipercepat karena guru-guru sedang rapat buat persiapan UN kelas tiga nanti. Sambil minum es kopyor-nya Bang Badrun. Kalau kata anak-anak SMA Gunawijaya, Es Kopyor Bang Badrun emang paling ajib deh!!
Hampir saja tersandung namun tidak terjadi, Reni akhirnya sampai dihadapan Ola dan Esti. Dengan keringat mengucur deras di pelipis dan dagunya yang cantik.
“Ada apa sih Ren??” Tanya Esti heran.
“Gue sekarang deket sama Dika!” Jawab Reni dengan semangat.
“APA???!!!” Tanya Esti dan Ola serentak dengan ekspresi kaget. “MAKSUD LO REN???”
“Aduh!! Kalian ini gimana sih??” Reni berdecak kesal.
“Iya, kita nggak ngerti, lo dateng tiba-tiba dan bilang lagi dekat sama Dika…” belum selesai Esti ngomong langsung aja dipotong sama Ola.
“Nah Dika itu siapa sih??!!” Tanya Ola penasaran.
“Dika itu cowok yang gue kenal lewat Twitter.” Sambil Reni berusaha menjelaskan. Ia juga mulai menyuruput es kopyor milik Esti.
“Twitter??” Ola pasang wajah heran. “kalo lewat Twitter, berarti belum pernah kopi darat dong??”
Reni manggut-manggut. Kemudian ia letakan kembali gelas es kopyor milik Esti ke posisi semula.
“Terus masalahnya apa?” Tanya Esti kemudian.
Lagi-lagi Reni berdecak kesal.
“Gini ya guys! Dulu, Dika itu deket sama temen SMP gue namanya Kamila. Nah, dulu juga gue sempet suka sama si Dika ini. Tapi karena Dika bilangnya suka sama Kamila. Jadi gue ngundurin diri. Tapi semalem. Karena Dika dan Kamila udah jauh. Pokoknya jauuuhhhh banget. Akhir-akhir ini Dika emang deketnya sama gue. Sekarang Dika deket sama gue, guys!! Dan dia bilang suka sama gue semalam.” Reni menceritakan dengan penuh antusiasnya.
Ola yang pikirannya nggak se-LoLa Esti mulai angkat bicara.
“Lo percaya gitu aja?” pertanyaan jitu buat Reni. Terus Reni harus percaya gitu aja sama Dika. Kalau misalkan Dika suka sama Reni. Ketemuan aja belum pernah. Kenapa bisa-bisanya Dika berpaling dari si Kamila itu. Kemudian langsung suka sama Reni.
Reni hanya mampu menyapu keadaan disekelilingnya dengan mata. Kini perasaannya mulai tidak karuan. Kalau Reni bilang percaya. Berarti ia cewek gampangan. Tapi kalau bilang nggak, feelingnya yang bilang kalau Dika serius.
“Helloooo Reni???!!!” Ola menyadarkan Reni dari lamunannya.
“Ah?? Iya… Apa?? Hm… Gue nggak tau, La.” Jawabnya ragu-ragu.
“Kok??” Perkataan heran dari mulut Esti. “Kenapa lo bilang nggak tau Ren??”
“Yaaaaaah… Gue emang nggak tau dia serius atau nggak..” Reni menjawab dengan lesu. “Yaudah lupain aja sama cerita gue tadi. Nggak penting.”
Reni beranjak dari tempat menuju sekolah lagi untuk ngambil kendaraannya yang tengah terparkir di dalam sekolah.
“Mau kemana Ren??” Tanya Esti penasaran.
“Mau ngamen!” Jawabnya tanpa menoleh lagi ke arah Ola dan Esti yang membeku ditempat.
“Kok ngamen sih???” Esti setengah berteriak. Kemudian menoleh ke Ola yang tepat berada disampingnya “Emangnya dia udah kekurangan duit jajan??”
“Ck!” Ola berdecak sambil mengernyitkan dahinya. “Balik yuk, Es. Gue mau cerita sama lo.”

Tanpa aba-aba mereka berdua angkat kaki dari tempat tersebut dan mengikuti langkah Reni yang menuju parkiran sekolah didalam.
***
Melalui Message»
Dika : Hai
Reni : Iya
Dika : Lagi apa kamu Ren?
Reni : Hahaha nggak lagi ngapa-ngapain kok.
Dika : Oh…
Reni : Kamu?
Dika : Aku lagi nyicil pelajaran aja Ren. Dikit lagi kan UN.
Reni : Oh?? Iya yah?? Dikit lagi kamu UN. Hehehe
Dika : Udah makan???
Reni : Belum… hehehe Kamu??
Dika : Udah kok, kamu makan dong… Nanti sakit lho… Aku nggak mau kamu sakit.
Reni : Iya.. Makasih ya Dika… Yaudah aku makan dulu ya…
Dika : Ok deh. Nanti kalau udah selesai kabarin aku ya. Aku mau telephone kamu.
Reni : Sip.
Sebenarnya Reni hanya basa-basi kalau dia mau makan. Padahal ia sedang berusaha mencerna kata-kata Ola tadi siang disekolah. Masih bingung mau cerita apa dan sama siapa. Tapi seketika ia ingat sama Sagita. Cewek yang lagi dekat sama Deni -teman laki-laki yang dekat dengan Reni selain Ola dan Esti-
Reni : Git…
Sagita : Iyaaa Ren. Kenapa??
Reni : Gue mau cerita nih….
Sagita : Cerita apa??? Gue juga mau cerita nih…
Reni : Hmmm lo duluan deh…
Sagita : Yakin??? Nggak mau duluan??
Reni : Enggak ah. Lo aja. Ada apa???
Sagita : Kok Deni aneh ya??
Reni : Anehnya??
Sagita : Jadi perhatian banget sama gue. Ada apa ya sama Deni.
Reni : Ya bagus dong…. Nggak sia-sia lo suka sama Deni.
Sagita : Tapi sekarang udah nggak ada perasaan Ren. Gue udah nggak suka dia lagi Ren.
Reni : Jadi maksud lo, dia telat gitu suka sama lo sekarang?
Sagita : Iya Ren. Kenapa nggak dari dulu aja? Kenapa baru sekarang?
Reni : Ada alasannya kali. Ya, tapi syukurin aja kalau Deni sekarang care banget sama lo.
Sagita : Iya sih…. Dia kan orangnya cuek banget. Aneh, kalau tiba-tiba care banget sama gue.
Reni : Hahaha iya tuh bener.
Sagita : Hahaha, iya. Eh sekarang lo mau cerita apa?
Reni : Nggak jadi ah…
Sagita : Kok gitu???
Reni : Iya… Yaudah gue mau SMS an sama temen gue lagi ya..
Sagita : Oke deh Ren. Bye yaaa… Thanks!
Reni : He-eh…

Dengan sengaja Reni mengurungkan niatnya untuk cerita ke Sagita tentang kedekatannya dengan Dika. Waktu sudah menunjukan jam 21.30 malam. Reni segera beranjak tidur. Dan mencoba lupa dengan percakapannya bersama Ola tadi siang. Melupakan juga dengan janjinya yang ingin SMS Dika -yang masih Reni anggap teman- untuk mengabarinya kemudian. Kalau jodoh ya deket kalau enggak ya bukan jodoh namanya. Kata Reni dan tak lama kemudian lampu di padamkan. Reni pun tertidur pulas hingga pagi menjelang.
***
Istirahat jam pertama Reni habiskan di kelas. Sambil memainkan laptop dikelas. Reni juga sudah membawa beberapa cemilan. Untung-untung persiapan. Ngutuhin duit jajan lah, gumamnya dalam hati. Lagi asyik browsing makalah IPA melalui laptopnya tiba-tiba Deni -cowok yang Reni bicarakan bersama Sagita semalam- sudah stay didepan Reni. Bukan kekagetan lagi kalau Deni sering datang tiba-tiba seperti jaelangkung. Datang nggak dijemput. Pulang juga nggak di antar.
“Cieee pinjem laptop dong Ren…” Pinta Deni dengan wajah sok imut.
“Pinjem?? Beli!!!” Balasnya meledek.
“Dih??? Galak amat. Dasar Reni pelit.” Katanya langsung buang muka.
“Dih? Ngambek.” Reni tertawa kecil kemudian berlagak angkuh.
“Iya aku ngambek sama kamu, abis kamu nggak pinjemin aku laptop.” Katanya yang persis kayak anak kecil.
“Elaaah… Gaya lo Den. Ngambek-ngambek juga care kan sama Sagita. Ngaku lo…”
Sontak mata Deni melebar. Kanget campur heran. Apa banget sih nih cewek?
“Kok lo ngomong gitu?” suaranya mulai ketus. Mulai keliatan pula sifat aslinya yang menurut Reni menyebalkan.
“Iya. Lo kasih semangat ya buat Sagita???? Cieeee….. asyik dah… kalau udah jadian kasih tau cepet-cepet yaaa….” Reni langsung tertawa terbahak-bahak. Melihat ekspresi wajah Deni yang kemudian kusut banget. Tanpa kata-kata Deni angkat kaki dari tempatnya. Menuju suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun. Termasuk Reni.

Disaat Deni pergi. Ola dan Esti pun bergiliran menghampiri Reni yang masih asyik otak-atik laptopnya. Sampai di tempat Reni. Esti angkat bicara.
“Si Deni kenapa Ren? Kusut banget mukanya.”
“Nggak tau tuh. Hahaha.”
“Dia mah sensitive mulu.” Ola menyambar.
“Tau deh yang tetangganya mah. Hahaha…”
“Eh kok lo nggak jajan Ren?” Tanya Esti heran
“Males. Lagi juga gue udah bawa cemilan. Dan sedang sibuk browsing makalah buat presentasi jam terakhir nanti. Lo kelompok sama gue kan?” Tanya Reni ke Esti.
“Iya….” Esti terkekeh
“Ih, kelompok gue odong semua! Pada malesin!” Ola menggerutu sendiri. Dan diselingi oleh tawa renyah dari Reni dan Esti
“Eh, nanti malam kita ngerjain tugas matematika di rumah Reni yuk.” Ajak Esti.
“Ayooo…” Balas Reni semangat.
“Ajak Deni juga ya…” Pinta Ola.

Esti dan Reni hanya manggut-manggut setuju. Tak lama kemudian guru bahasa Inggris XI IPA 3 datang. Berakhir pula percakapan mereka. Esti dan Ola kembali ketempat duduknya. Dan Reni mulai mematikan laptopnya. XI IPA 3 siap belajar bersama Mr. Ahmad
***
Jam menunjukan 20.30, dirumah Reni sudah ada Ola, Esti dan Reni yang sedang asyik berdiskusi dan mengerjakan PR matematika. Tak lama kemudian, dari luar gerbang rumah Reni yang berwarna merah marun terdengar tlaksonan mobil berkali-kali. Pertanda bahwa Deni telah tiba dan siap bergabung bersama.
“Sorry yah telat…” Kata Deni tanpa basa-basi saat telah memasuki rumah Reni setelah sebelumnya Deni mengucap salam.
“Kok lama banget sih???”Tanya Ola heran. “Tadi mending lo bareng gue kali, Den…”
“Gak kok, gue tadi ada acara sebentar di kampus abang gue. Makanya gue bawa mobilnya. Nanti gue mau balik lagi jemput abang gue kekampusnya.” Jelasnya, “Eh Ren. Tamu dateng kasih minum dong, haus nih!”

Reni yang sedari tadi bengong liat penampilan Deni yang beda dari hari biasanya. Benar-benar terpaku ditempat. Kali ini Deni bergaya casual. Ia tidak terlihat seperti anak SMA. Lebih tepatnya seperti anak Kuliah. Bagi Reni, hampir semua anak kuliah itu trendy. Nggak kayak SMA. Mau nge-gaul dan trendy tapi jatuhnya malah norak. Ya, kayak si Miss Perfect -Angelina XII IPS 1. Matanya pun tak mampu berkedip. Ganteng juga nih anak kalo begini, gumamnya dalam hati.
“Ren… kok ngelamun??? Apa harus gue yang ambilin??” Ola menyadarkan Reni dari lamunannya.
“Eh?? Iya?? Apa?? Oh iya bentar yaa…” Reni tergopoh-gopoh menuju dapur untuk mengambil secangkir minuman dingin untuk Deni. Sampai balik dari dapur pun Reni tergopoh-gopoh. Kali ini ia ingin meyakinkan penglihatannya.
“Ada apa sih liatin gue??” Tanya Deni ke Reni
“Ng… Nggak!! Ng.. Nggak apa-apa!!” Bantah Reni seketika.
“Oh… Yaudah yuk kerjain.” Tanpa basa-basi Deni langsung mengajak ketiga teman perempuannya untuk berdiskusi dan mengerjakan PR Matematika.

Terkadang suasana hening dan terkadang riuh seketika karena tingkah Esti yang polos dan apa adanya diantara Reni, Ola dan Deni. Esti-lah yang paling pintar dalam berbagai pelajaran. Contohnya matematika. Deni saja tidak segan-segan minta diajarin Esti. Sampai Esti pusing dan bosan ngajarin matematika sama Deni. Alasannya hanya 1, Deni itu odong banget sih, susah banget diajarinnya!! Kesalnya.
Deni dan Esti lagi sibuk diskusi. Sekarang giliran Ola dan Reni curhat-curhatan soal Dika. Ya, Reni memang paling suka curhat tentang Dika. Entahlah karena apa. Tapi ia benar-benar sangat senang jika membicarakan Dika.
“Terus kemarin jadi telephone-nan sama Dika?” Tanya Ola sambil memakan cemilian.
“Enggak, gue keburu tidur.” Jawab Reni. “Tapi besoknya di telephone gue, La.”
“Dia cerita apa aja emang?”
“Nggak banyak. Cuma…..” Belum sempat melanjutkan kata-kata sudah terpotong Ola terlebih dahulu.
“Cuma apa???” Tanya nya penasaran.
“Dia ngajak gue ketemuan, La.” Jawab Reni senyum sumringah.
“Wah???” Terkejut sekaligus senang mendengar cerita Reni. Walaupun ia kurang yakin. “Lo pasti mau kan???”
“MAU BANGET!!!” katanya hampir setengah teriak. Itu pula yang menjadikan Deni sontak menoleh kearah sumber suara tersebut.
“Ada apaan sih??” Tanya Deni, ketus.
“RENI MAU KETEMU DIKA.” Sahut Ola, semangat.
“SUMPAH LO, REN???” Tanya Esti tak percaya. Ia juga ikut senang mendengar kabar ini. Reni pun hanya membalasnya dengan manggut-manggut
“Dika??! Siapa dia?” Tanya Deni, ketus lagi. Kumat deh penyakitnya si Deni.
“MAAAAAAUUUUUU TAAAAUUUUU AJAAAAAAAAA!!” Reni membalasnya dengan meledek.
“Gue serius Reni.” Seketika Deni menghentikan kegiatannya dan memfokuskan pikirannya ke orang yang tepat di samping kanannya.
“Gue juga serius.” Reni menjawab santai
“Lu mah rese!!” Seru Deni.
“Rese apaan sih?!” Tanya Reni, sewot.
“Kasih tau gue. Dia siapa???!!” Deni juga tak mau kalah sewot.
“Kenapa???!! Penting gitu buat lo???” suasana kini bukan suasana kondusif untuk belajar tapi ajang debat telah dimulai. Antara Deni dan Reni.
“Pen..” Deni sengaja tidak melanjutkan kata-katanya. Namun ia menajamkan matanya dihadapan sepasang bola mata Reni.
“APA???!!!”
“CEPET KASIH TAU GUE, SIAPA DIKA ITU??”
“LO URUSIN AJA SIH SI SAGITA!”
“KOK BAWA-BAWA SAGITA??? APA HUBUNGANNYA???”
“ADA!!! LO SMS AN TERUS KAN SAMA SAGITA??? TELEPHONE AN TERUS KAN???? NGAKU LO!!!!”
Deni menghela nafas dengan cepat.
“GUE SAMA SAGITA CUMA TEMEN. GUE CUMA KASIAN SAMA DIA.”
“APA???!! KASIAN??? BUKANNYA LO CARE??? BISA AJA JADI SAYANG KAN????”
“LO NGGAK PERCAYA SAMA GUE REN???”
“ENGGAK!!!”
“OH??? GITU??? OKE TERSERAH LO. GUE MAU BALIK!!!” Deni langsung beranjak dan kemudian pamit dengan Ola dan Esti. Tanpa sedikit pun menoleh kearah Reni yang masih diliputi emosi.

Ola dan Esti saling pandang. Kenapa mereka jadi berantem gini sih Cuma karena Deni dengar cerita tentang Dika?. Ada keanehan antara Deni dan Reni. Ada sesuatu yang harus disampaikan. Tapi sesuatu itu apa??? Kenapa begini??? Sejak Deni angkat kaki dari rumah Reni. Seketika mood Reni berubah jadi unmood. Ia jadi males ngapa-ngapain. Dan lagi-lagi, otak Ola lebih cepat dari pada Esti. Ia menduga kalau Deni dan Reni ada sesuatu.
***
Sudah 3 hari lebih Reni bungkam. Ia sama sekali tidak berbicara banyak antara Ola, Esti apalagi Deni. Ola dan Esti melihat sikap Reni dan Deni tiba-tiba menjauh. Setiap kali bertemu Deni ia menghindar jauh. Atau ketika Ola dan Esti bertanya kenapa Reni jadi berubah sikapnya, seketika juga Reni lebih memilih diam dan pergi dari pertanyaan itu. Entah karena apa lagi Reni jadi bungkam seribu bahasa. Hal sepele kah seperti Reni nggak mau kasih tau Dika itu siapa atau ada hal lain?? Ola dan Esti masih coba cari tahu kenapa kedua teman mereka saling diam dan tidak pernah bertegur sama sekali.
Siang itu panasnya terik. Seperti biasa, Ola dan Esti duduk didepan sekolah mereka. Sudah ada es kopyornya bang Badrun yang menunggu kedatangan mereka. Sambil menyeruput dalam-dalam Esti angkat bicara terlebih dahulu.
“Sebenarnya ada apa ya antara Reni dan Deni?” Tanyanya prihatin, “Gue gak bisa lihat mereka begitu terus sejak dari rumah Reni malam itu.”
Ola mengerti maksud Esti. Ia hanya manggut-manggut. Kemudian menatap lurus kedepan. Berpikir apa yang akan dilakukannya nanti.
“Gimana kalau kita coba ngomong sama Reni atau Deni?” Tanya Esti yang justru disambut kepanikan oleh Ola. Dari kejauhan Ola melihat seseorang yang ia kenali. Seseorang yang sedang ia bicarakan. Sekarang sedang berjalan menuju mereka. Dia adalah Deni.
“Gue mau ngomong sama kalian berdua.” Kata Deni dengan nada ketus yang tiba-tiba berada ditengah-tengah antara Ola dan Esti.
“Apa den?” Tanya Ola, santai. Ia tidak terlalu mempedulikan ekspresi Deni. Kalau kata Reni, itu adalah ekspresi yang paling menyebalkan. Yaitu, KETUS.
“Dika siapa?” Tanyanya yang masih dingin.
Ola dan Esti saling tukar pandang. Sesekali melihat Deni yang sedang menunggu jawaban mereka.
“Dia anak SMA Linggar Jaya. Itu lho yang sekolahannya ada anak artis. Siapa deh namanya La???” Sahut Esti. Kemudian mencoba mengulur-ulur waktu lebih lama sekalian mencari cara lain yaitu gimana caranya kita ngomong sama Deni yang sebenarnya?
“ckckck” Ola berdecak sambil menggelang-gelengkan kepala, “Dia namanya Ola Ramlan!” Balasnya dengan sok serius.
“Elo dong???”
“Bukan!!!”
“Gue mah Ola Ramdhani.”
“Sodaranya Nia Ramdhani ya??”
“Bukan!!!”
“Itu Nia Ramadhani kucrit…”
“AHAHAHAHAHA!!!” Tanpa mempedulikan Deni yang sedari tadi sudah stand by dan pasang pendengaran baik-baik. Justru Ola dan Esti malah tertawa terbahak-bahak. Tetapi beda dengan Deni yang malah seketika menajamkan manik-maniknya yang tertuju tepat ke kedua sahabat karib Reni ini.
“Bukan itu jawaban yang mau gue ketahui.” Deni semakin ketus, di tambah lagi jutek abis.
“Emang kenapa?” Ola membalas dengan nada yang sedikit menantang. Dan sudah hampir mengetahui mengapa Deni bersikap aneh setelah mendengar nama Dika.
“Lo mau tau kenapa gue begini?” Tanya Deni yang seketika membuat kedua cewek ini heran dan penuh dengan penasaran. “Gue sekarang cemburu.”
Sontak mata kedua cewek ini melebar. Tak percaya apa yang dikatakan Deni barusan. Bahkan mereka butuh penjelasan dan pengulangan kata lagi.
“MAKSUD LO APAAA???!!!” Tanya Ola kemudian dengan wajah tak percaya.
“Iya gue cemburu. Kalian ngerti cemburu kan??? Gue nggak suka kalo Reni deket-deket sama cowok lain selain gue. Gue gak bisa. Gue cemburu. Makanya, sekarang gue tanya itu Dika siapa??? Bukan pacaranya kan??” Pernyataan Deni membuat Ola dan Esti terkejut. Tapi dari awal memang Ola sudah menduga. Jadi dia tidak sekaget yang dipikirkan.
“Dika itu…..” Belum sempat melanjutkan kata-katanya. Ola langsung memotong perkataan Esti.
“Lo mending langsung tanya ke Reni aja deh.” Ola beranjak dari tempat duduknya dan menarik tangan Esti. Untuk segera pergi dari tempat itu. Terutama pergi dari Deni.
“Kita mau kemana?” Tanya Esti heran.
“Kita harus les bimbel. Lo lupa??? Yuk!!” Tanpa jejak Ola dan Esti meninggalkan Deni ditempat. Deni masih membeku. Sekaligus merasa aneh. Ia juga belum mendapatkan jawaban yang ia inginkan.

Dari kejauhan Deni masih memperhatikan kedua cewek yang baru saja ia temui tanpa hasil. Akhirnya Deni juga memilih untuk angkat kaki dari tempat tersebut sampai mereka tak terlihat lagi.
***
Ola mempercepat ketukan pintu dirumah Reni. Ada perasaan gelisah campur panik. Gue harus cepet-cepet kasih tau kabar ini ke Reni, gumamnya dalam hati,
Tak berapa lama kemudian, Reni membuka pintu. Hampir shock setelah melihat kedua teman karibnya berada diambang pintu dengan wajah gelisah, cemas sekaligus panik. Reni pun mempersilahkan mereka masuk. Dan tanpa aba-aba pun Reni segera ambilkan segelas air minum dingin untuk tamu tak diundangnya tersebut.
Setelah keadaan menjadi tenang Esti pun mulai angkat suara terlebih dahulu dari pada Ola.
“Ada kabar Ren dari Deni.” Esti tanpa basa-basi langsung mulai ketujuan utama mengapa ia dan Ola datang ke rumah Reni tanpa undangan.
Namun respon Reni justru tidak interst. Ia mengacuhkan kata-kata Esti. Dalam benaknya, ia merasa sikap Deni sudah berubah. Dan ia tidak suka dengan sikap Deni tersebut. Dasar cowok over protektif.
“Ren, lo kenapa belakangan ini diem-dieman sama Deni?” Ola pun mulai menyusul langkah Esti yang membuka suara terlebih dahulu.
“Gue nggak suka Deni begitu.” Jawabnya ketus.
“Begitu gimana?” Tanya Ola
“Sekarang sikap dia berubah.”
“Berubah???!” Esti dan Ola serempak bertanya heran.
“Iya, contohnya dirumah kemarin. Itu puncaknya lho Ti, La. Sebelum-belumnya dia pernah kayak gitu juga kan? Misalnya gue digonceng pulang sama Robert. Eh dia langsung paksa gue ikut kemobil dia. Kesel kan kalo digituin??” Ceritanya panjang. Esti maupun Ola hanya bisa manggut-manggut paham.
“Belum lagi masalah gue belajar fisika sama Hendri. Padahal Cuma belajar aja didalam kelas. Walaupun kita Cuma berdua. Tapi murni total kita belajar. Nggak ada hal lain selain itu. Tapiiiiiiiiiii………. Lo tau nggak???!!!” Esti dan Ola langsung pasang pendengaran baik-baik. “Dia bentak Hendri. Hendri juga orangnya temperamental siiihhhh. Dan lo juga harus tau!!! KALO HENDRI ITU UDAH SABUK HITAM TAEKWONDO. JELAS AJA DENI LANGSUNG DISIKAT!!! TERUS YANG REPOT SIAPA???? GUE!!! GUE YANG HARUS MINTA MAAF KE HENDRI, DAN GUE JUGA YANG HARUS NGERAWAT DENI!!! EMANG TUH COWOK RESE BANGET!!!!”
“Tapi lo harus ketemu sama dia!” Esti menyambut cerita Reni yang bertolak belakang.
“APA???” Reni terkejut mendengarnya, “Maksud lo apa, Ti?”
“Lo sadar nggak kenapa dia begitu?” Ola bertanya dengan hati-hati. Reni pun hanya membalasnya dengan menggelangkan kepalanya.
“Lo harus bisa baca bahasa tubuh dia Ren, ada alasannya kenapa dia begitu. Lo harus percaya sama kita. Sekarang lo harus ngomong empat mata sama Deni.” Reni merasa aneh dengan sikap Ola yang bijak seketika. Ya, dia tahu OIa adalah tetangga Deni dari kecil. Dari kecil pula mereka selalu dekat. Namun selama ini, OIa hampir tidak pernah bersikap seperti ini ke Deni. Namun, Ola dan Deni bagaikan orang yang jauuuuhhhhh sekali keberadaannya dengan satu dan lainnya. Jadi, kemungkinan bersikap bijak demi membela Deni itu sangat jarang dirasakan Reni. “Sekarang juga Ren.”
Reni menyapu semua yang ada di depannya dengan penglihatan. Berpikir sejenak. Mencoba berpikir lagi. Bener juga sih… Pasti ada alasannya kenapa Deni begitu. Lagi juga sikap over protektifnya nggak Cuma sekali atau dua kali. Dia sering begitu. Hmm… gimana ya???
“Gue setuju sama Ola kali ini Ren.” Esti menimpalinya.
Reni pun mencoba tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras. “Oke gue mau ketemu dia.” Ola dan Esti menarik nafas lega.
Setelah urusannya dengan Reni selesai. Ola dan Esti pamit pulang. Dan menyerahkan semuanya ke Reni. Mereka yakin Reni bisa menyelesaikan permasalahannya dengan Deni. Ini sangat bersifat internal. Orang lain pun tidak boleh ikut campur termasuk Ola dan Esti.
***
Beberapa hari kemudian Reni mengajak Deni bertemu di sebuah taman dekat rumah Reni. Lagi-lagi, Reni merasakan degub jantungnya yang tak berhenti terpompa dengan cepat saat melihat Deni sudah berada dihadapannya. Deni pun hanya memakai pakaian casual. Dan siap untuk berbicara empat mata dengan Reni.
Dibawah pohon ridang dan terdengar gemericik air dari pancuran yang tak jauh dari tempatnya. Beberapa bunga yang cantik menghiasi taman ini. Dan tak lama kemudian gerimis hujan turun. Pohon ini terlalu besar, sehingga tak terasa air yang turun hingga mengenai Reni maupun Deni.
“Gue punya alasan kenapa gue ajak lo kesini, Den,” Reni mulai angkat bicara terlebih dahulu.
“Iya… Ada apa?” suara Deni tidak ketus sama sekali. Namun suaranya begitu lembut. Dan lebih lembut dari sesosok Deni yang pernah Reni temui sebelumnya.
“Sikap lo berubah Den. Gue nggak suka.”
“Gue over protektif. Ya gue sadar, Ren.” Balasnya melesu. Reni belum memperjelas namun Deni sudah mengetahuinya.
“Iya, kenapa? Sekarang gue dekat sama Dika. Lo tau kan gue udah jomblo setahun. Setelah putus dari Gilang. Susah banget Den gue buat move on. Apa lagi move on sama orang yang udah nggak ada didunia ini. Lo tau kan Den gue udah di tinggal pergi sama Gilang buat selama-lamanya?? Gue udah nggak bisa menyentuh dia lagi. Dia sudah menjadi angin Den. Dia udah jadi angin selamanya. ” Air mata Reni tak tertahankan. Mengenai pipinya yang halus jika disentuh. Kini bukan gerimis lagi, namun hujan yang mulai turun. Deni pun tak tahan melihat Reni terisak dalam kepedihan. Ingin rasanya ia memeluk Reni saat itu juga. Namun entah mengapa ia membeku ditempat. Ia hanya bisa mendengar suara Reni yang diselingi serak akibat berulang kali ia menahan tangisnya agar tidak terjatuh lebih banyak dan terlarut lebih dalam lagi. “Sekarang sikap lo begitu. Setiap kali gue deket sama cowok lo langsung over protektif. LO KENAPA DEN?? LO KENAPA???!!!”
Deni yang semula tertunduk kemudian mengangkat kepala dan menatap manik-manik Reni. “Gue cemburu.” Desisnya.
“Apa??” Reni tidak mendengar.
“Gue cemburu.” Ia menelan ludah. Memperkuat hatinya untuk tindakannya kali ini, “ Gue nggak bisa lihat lo sama yang lain. Itu pula alasannya kenapa gue begini sama lo. Gue nggak kuat kalo lo sama cowok lain. Gue juga nggak tau apakah gue sayang sama lo atau enggak. Yang jelas gue nggak bisa lihat lo sama cowok lain. Gue nggak bisa Ren. Nggak bisa” Nada suara Deni pun kian memberat. Butuh mental yang kuat untuk menjelaskan yang sebenarnya. Memotong urat malu. Dan meyakinkan dengan perbuatan yang ingin dilakukannya kelak. Itulah yang Deni lakukan sebelum berbicara bahwa ia cemburu.
Reni sudah menduga. Ini pula yang pernah dilakukan Gilang dahulu. Sulit mengaku kalau Gilang sebenarnya cemburu. Sama seperti yang dilakukan Deni saat ini.
“Sagita???”
“Lo kenal abang gue kan??” Reni mengangguk, “Bang Vino, itu dulu pacaran sama Sagita. Lo nggak tau kan???” Reni menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sekarang kan bang Vino sama Sagita udah putus. Tapi Bang Vino masih sayang sama Sagita. Dia minta gue perhatiin Sagita. Dan…” belum selesai Deni melanjutkan kata-katanya Reni sudah bisa menjawab.
“Dan… Sagita suka sama lo. Dia sayang juga sama lo…”
“Iya… tapi setelah dia tahu gue adiknya Bang Vino dia udah nggak bisa sayang sama gue lagi. Dan rencananya Bang Vino sama Sagita mau balikan lagi.” Deni menceritakan dengan suara yang membuat Reni nyaman. Bukan Deni yang jutek, sinis, ketus, dan nyebelin. Itu semua lenyap seketika dipikran Reni. Dan lambat laun ia merasakan sesuatu di perasaannya. Sesuatu yang membuatnya berhasil move on. Bukan harus dengan Dika. Ternyata Deni pun menyanggupinya. Deni bisa membuat Reni move on dari keterpurukannya, setahun yang lalu.
“Ren…” Deni perlahan menyentuh jemari Reni dengan lembut. Seketika rona merah diwajah Reni tampak jelas, “Aku cemburu. Kamu harus tau kalo aku selalu memikirkanmu. Disaat aku nggak masuk sekolah karena demam berdarah. Dan harus rawat inap dirumah sakit. Yang aku cari adalah kamu. Disaat aku pulang ke Lampung waktu liburan. Yang aku pikirin hanya kamu. Aku hanya mau bersama kamu. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Sebelum Gilang pergi meninggalkanmu aku sudah merasakan perasaan ini. Tapi terpaksa aku pendam. Aku harus tahan semuanya. Makanya aku bersikap over protektif sama kamu. Kamu harus bisa memahami bahasa tubuhku Reni. Setiap yang aku lakukan ada alasannya. Kamu mengerti?” Reni mangangguk iya. Ia bingung harus berkata apa lagi. Kini pohon yang melindungi mereka tidak bisa lagi menahannya. Hujan deras telah mebasahi tubuh mereka. Reni terkekeh. Ia merasakan ada kehangatan ketika Deni memeluknya untuk kepersekian detik. Kemudian melepaskannya dan menatap Reni tajam-tajam.
“Kalo bahasa tubuh kamu yang barusan. Itu apa Den?”
“Artinya…” Reni memasang pendengaran baik-baik, “Lulus sekolah nanti kita harus merried. Hahahaha” Deni tertawa membahana diselingi hujan yang turun kian deras. Reni hanya membalasnya dengan cubitan di perut Deni. Walaupun Deni meronta kesakitan namun Reni tak mempedulikannya. Mereka berdua pun menikmati hujan kali ini dengan bersama. Sampai kapan pun bahasa tubuhku akan begini terus untukmu, Ren. Aku menyanyangimu, gumam Deni dalam hati.
***

Gebyar HARDIKNAS

Tanggal 28 April 2012, gue mendapat tugas sebagai reporter sekolah untuk meliput Gebyar Hardiknas.
Sebenarnya hardiknas itu dilaksanakan bulan mei besok, tapi mungkjin panitianya ngebet jadi yaudah deh dimajuin.

Diawali dari pagi hari, gue bangun jakm 3 pagi.
Karena gue pergi rombongan jadi berangkatnya harus bareng2.
Tapi waktu gue bangun jam 3 gue malah disuruh tidur lagi sama nyokap gue. Alhasil, gue malah kebablasan. Jam setengah 5 gue baru bangun.,
Waktu prepare h-1. Ceritanya mau berangkat jam setengah lima. Tapi karena gue jam setengah 5 justru baru bangun. Gue pun mandi kilat dan sholat kilat. pokoknya titip kilat lah.

Sampai sama gue mulai heboh.
ALHAMDULILLAH BANGET!!!
Gue gak mual naik mobil saceng. padahal sebelum2nya gue mulai total tau.
Apa lagi waktu mau lomba padus. Gue sempet2in muntah dibis. tapi disimpan pake kantong kresek.

Untuk ngilangin mual gue cerita2 aja. Ya, untung2nya biar hepi lah.
Eh si ariya bawel. Emang ya!
Ariya itu selain bewokan dan juga bawel.
Sebutan buat dia adalah 2B (Bewok & Bawel)
KAMSEUPAY IIUUUCCCHHH!!!

Sampai dimonas udah ruameeeee buaaangggeettt!!!!!!!!!!
DAN TUGAS GUE SEBAGAI REPORTER BERAKSI.
1 KOMENTAR YANG PALING GUE INGET DARI ARIYA ADALAH UDAH LU JANGAN NERVOUS. LO JANGAN KELIATAN NERVOUS. SANTAI AJA SIH!! KELIATAN BANGET NERVOUSNYA

eerrggghhhmalesinbangetsihariyaitu….

Tapi dia partner yang buaik banget!
Walaupun dia sempet doian gue biar gak langgeng sama RGW.
Tapi gak ngaruh.
Karena gue sayang RGW.
Walaupun gue gak tau RGW lagi apa sekarang ;(
AARRGGHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!


GUE KANGEN RGW TAU!!!